Terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP Setya Novanto (kiri) berbicara dengan penasehat hukumnya pada sidang perdana di gedung Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/12/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Wahyu Putro A)
Senin, 12 Februari 2018 19:30 WIB JIBI/Solopos/Antara Hukum Share :

Di Rutan KPK, Pejabat Terdakwa Korupsi Saling Curhat dan Mengaji

Para pejabat yang menjadi terdakwa kasus korupsi berteman dan saling curhat di Rutan KPK.

Solopos.com, JAKARTA — Para mantan pejabat yang ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) KPK karena tersangkut kasus korupsi kini saling berteman. Auditor Utama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rochmadi Saptogiri menjadi teman curahan hati (curhat) mantan Ketua DPR Setya Novanto.

“Pak Sapto, ya menceritakan bagaimana kesusahannya, ada juga para bupati kesulitan-kesulitannya, semua kita percayakan pada penyidik atau JPU,” kata Setya Novanto, sebelum sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (12/2/2018).

Rochmadi juga menghuni Rutan KPK karena menjadi terdakwa penerimaan suap Rp240 juta terkait audit laporan keuangan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), penerimaan gratifikasi sebesar Rp3,5 miliar, serta pencucian uang.

“Ya, mereka curhat masing-masing begitu, hampir semua dekat, saya ceritakan,” ujar Setnov.

Ia pun mengaku kangen dengan istrinya Deisti Astriani Tagor. “Ya itu bukan kangen lagi, satu-satunya orang yang sudah dalam susah hidup di kos-kosanan, harapannya bukan ingin politik, ingin jabatan. Harapannya adalah keluarga istri, anak,” kata Setnov lagi.

Dia juga mengaku sedang mempelajari Alquran. “Semua saya pelajari. Kita saling ngobrol, semuanya kan sama-sama susah. Kita sharing kembali kita serahkan sama Tuhan,” kata Setnov pula.

Tidak ketinggalan, Setnov menceritakan kegiatan kesehariannya membersihkan lingkungan di rutan. “Kalau di ruang tahanan kita bersihkan, ya dibacakan Alquran, nanti kita bersihkan sendiri, kita lap, jangan sampai kotor, laba-laba kita bersihkan supaya tetap terjaga,” ujar Setnov.

Setnov juga mengatakan tidak ada pengalaman horor di rutan karena sembayang yang kuat. “Sembayangnya kuat-kuat semua, semua baca Alquran, saya pun belajar dari teman-teman yang lain, salat berjemaah dan yang jadi imam Pak Sapto, jadi komandan imam,” kata Setnov lagi.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…