Wisatawan Papan pengumuman penunjuk lokasi palung Pantai Parangtritis sebagai himbauan agar wisatawan tidak berenang di Pantai Parangtritis seperti terlihat pada foto yang diambil, Sabtu (18/7/2015).(JIBI/Harian Jogja/Joko Nugroho)saat menikmati libur Lebaran hari pertama di Pantai Parangtritis, Sabtu (18/7/2015). (JIBI/Harian Jogja/Joko Nugroho) Wisatawan saat menikmati libur Lebaran hari pertama di Pantai Parangtritis, Sabtu (18/7/2015). (JIBI/Harian Jogja/Joko Nugroho)
Minggu, 11 Februari 2018 08:20 WIB Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Pesisir Selatan DIY Perlu Ada Pusat Oleh-Oleh dan Kerajinan

Pengembangan produk lokal juga membutuhkan kerja sama dari dinas-dinas terkait selain Pariwisata

Solopos.com, BANTUL – Investor dinilai belum mampu menyerap produk lokal secara maksimal di Bantul. Dari sisi pariwisata, Dinas Pariwisata Bantul mengambil langkah dengan pameran produk lokal secara bertahap.

Sebelumnya, Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan (HIMKI) DIY Timbul Raharja mengatakan hanya sekitar 5% produk lokal yang diserap oleh investor. Bahkan hostel di DIY kebanyakan mengadakan properti dari china. Kondisi ini masih stagnan dari dua tahun yang lalu pada 2016.

Selain itu, peran serta dari kabupaten dan kota untuk membuka peluang bagi pengrajin pameran di beberapa tempat dianggap kurang. “Terutama yang di Wonosari dan Kulonprogo,” kata Timbul, (23/1/2018). Padahal, menurut Timbul, pameran juga bisa menjadi salah satu cara menarik investor.

Menanggapi hal tersebut, Plt Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo mengatakan pengembangan produk lokal juga membutuhkan kerja sama dari dinas-dinas terkait selain Pariwisata.

Saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan Dinas terkait salah satunya Dinas Perindustrian untuk mengembangkan produk lokal. “Kami akan rangkul lagi dinas terkait untuk kerja sama,” kata Kwintarto, Jumat (9/2/2018).

Kwintarto memaparkan satu contoh, terdapat banyak toko oleh-oleh di pesisir Pantai Samas sampai Pandansimo. Perilaku wisatawan setelah melihat sunset langsung pulang.

Kwintarto berpendapat pesisir berpotensi untuk dilakukan pengembangan tempat oleh-oleh yang berisi kerajinan lokal. “Andaikata tempat oleh-oleh disiapkan, akan sangat berpotensi,” kata Kwintarto.

Selain itu, di obwis mangunan showroom kerajinan lokal juga direncanakan. Saat ini pihaknya sedang bekerjasama dengan pengelola untuk penguatan pasar produk lokal secara tersebar. Artinya yang dimiliki oleh warga di berbagai tempat.

“Secara mandiri dulu tidak apa-apa, nanti kalau brandnya sudah kuat baru kita koordinasikan dengan dinas terkait supaya [showroomnya] tersentral,” kata dia.

Kwintarto mengakui kerajinan lokal di Bantul memang hanya kalah dengan brand luar. Sebenarnya, banyak produk Bantul yang dijual dengan brand luar.

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…