Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko. (JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo) Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko. (JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo)
Minggu, 11 Februari 2018 19:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

PENYERANGAN GEREJA
Uskup Agung Semarang Minta Umat Katolik Tak Terprovokasi

Penyerangan gereja di Sleman membuat Uskup Agung Semarang, Rama Ruby, prihatin.

Solopos.com, SEMARANG – Uskup Agung Semarang, Monsinyur Robertus Rubyatmoko menyesalkan insiden penyerangan terhadap jemaat Gereja Katolik Santo Lidwina di Dukuh Jambon, Kelurahan Trihanggo, Kecamatan Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu pagi.

Kendati demikian, pria yang akrab disapa Rama Ruby itu meminta kepada seluruh umat Katolik agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi terhadap aksi itu.

Aksi penyerangan di Gereja Lidwina itu dilakukan seorang laki-laki saat jemaat gereja sedang beribadah sekitar pukul 07.00 WIB.

Pelaku yang diketahui bernama Suliyono, 16, warga Kandangan, Pesanggrahan, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) itu menyerang jemaat bernama Martinus Parmadi Subiantoro dan mengenai punggung sehingga jemaat membubarkan diri. Selanjutnya pelaku masuk ke gedung utama gereja sambil mengayun senjata tajam sehingga para jemaat juga membubarkan diri.

Pelaku juga menyerang Rama Prier yang tengah memimpin misa dan melukai dua jemaat lainnya. Pelaku juga melakukan perlawanan saat hendak ditangkap petugas hingga akhirnya dilumpuhkan dengan tinta panas.

Rama Ruby meminta seluruh umat dan warga Jogja tidak terprovokasi dengan insiden penyerangan gereja itu. Dalam keterangan resmi melalui aplikasi Whatsapp messenger (WA), Rama Ruby meminta insiden itu dijadikan pelajaran agar tetap menjaga suasana aman dan damai di Indonesia.

Para Romo lan para kadang ingkang  kula tresnani. Mangga ngadhepi kahanan ing Ngayojakarta kanthi manah ingkang adhem [Para Rama dan teman yang saya cintai. Mari menghadapi keadaan di Jogja dengan sikap yang damai,” tulis Rama Ruby dalam bahasa Jawa dalam keterangan pers yang diterima Solopos.com, Minggu siang.

Rama Ruby juga mendorong pemerintah setempat untuk menyelesiakan kasus tersebut. Ia juga mengajak umat Katolik untuk tetap sabar dan melanjutkan aktivitas seperti biasa.

“Sampun ngantos umat lan masyarakat sami papudon tanpa jluntrung. Ugi sampun ngantos pasamuwan suci diedu kaliyan pemerintah. Pramila kula ngajak Panjenengan sedaya kangge lerem manahipun,” kata Romo Ruby.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…