Sejumlah tokoh ikut meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Taman Sriwedari, Solo, Senin (5/2/2018). (Nicolous Irawan/JIBI/SOLOPOS) Sejumlah tokoh ikut meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Taman Sriwedari, Solo, Senin (5/2/2018). (Nicolous Irawan/JIBI/SOLOPOS)
Minggu, 11 Februari 2018 03:00 WIB Indah Septiyaning W/JIBI/SOLOPOS Solo Share :

PENATAAN SRIWEDARI
Panitia Pembangunan Masjid Sriwedari Tunjuk Kontraktor dari BUMN

Panitia pembangunan Masjid Sriwedari tunjuk kontraktor BUMN.

Solopos.com, SOLO—Proyek pembangunan Masjid Taman Sriwedari akan memakai sistem penunjukan kontraktor pelaksana pembangunan ke salah satu badan usaha milik negara (BUMN).

Selain menjaga kualitas, sistem penunjukan juga untuk mempercepat pembangunan masjid yang ditargetkan rampung Agustus 2019.

Ketua Umum Panitia Pembangunan Masjid Taman Sriwedari sekaligus Wakil Wali Kota (Wawali) Solo, Achmad Purnomo, mengatakan sistem penunjukan dipilih dengan mempertimbangkan kualitas dan kuantitas hasil pembangunan masjid tersebut.

Apalagi pembangunan masjid tidak menggunakan uang negara, melainkan dana murni dari sumbangan umat dan corporate social responsibility (CSR) BUMN, perusahaan swasta, dan lainnya. (baca: PENATAAN SRIWEDARI: Potensi Langgar Hukum, Malaka Tolak Rencana Pemkot Solo Bangun Masjid Sriwedari)

“Sekarang koordinator seksi pembangunan masih menyusun tahapan pembangunan. Tapi kami targetkanlah secepatnya kontraktor pelaksana pembangunan bisa ditunjuk,” kata Purnomo ketika dijumpai wartawan seusai rapat koordinasi panitia pembangunan masjid Taman Sriwedari di ruang rapat Wali Kota, Jumat (9/2/2018) sore.

Setidaknya ada tiga tahapan dalam pelaksanaan pembangunan Masjid Taman Sriwedari, yakni tahapan struktur bangunan, menara, serta landskap. Ketiganya berjalan beriringan.

Proses lelang akan dikerjakan Pemkot untuk pembangunan satu menara masjid tersebut. Lelang dikerjakan lantaran anggaran pembangunan satu menara tersebut menggunakan APBD Kota Solo 2018 senilai Rp1 miliar.

Menara yang dibangun dengan dana APBD ini termasuk menara kecil, bukan menara utama yang ketinggiannya 114 meter sesuai jumlah surat dalam Alquran.

“Jumlah menara kecil ini ada empat, dua di kanan bangunan masjid dan  dua di kiri bangunan masjid. Nah satu di antara empat menara kecil ini dibangun dengan APBD,” katanya.

Pengerjaan pembangunan menara dengan menggunakan APBD harus rampung pada tahun anggaran ini. Terkait dengan dana pembangunan masjid, BUMN yang menyampaikan komitmen untuk menyumbangkan dana pembangunan masjid nilainya telah mencapai Rp105 miliar. Namun demikian, Purnomo enggan menyebutkan BUMN mana saja yang berkomitmen untuk menyumbangkan dana tersebut.

“Dari sekian itu [BUMN] Pertamina salah satunya. Dan Pertamina sudah melakukan kunjungan ke lokasi [Sriwedari],” katanya.

Purnomo mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo bersama panitia pembangunan masjid berkomitmen agar pembangunan masjid bisa dipercepat.

Dari semula ditargetkan pembangunan rampung dikerjakan selama dua tahun, nanti dipercepat Agustus 2019 selesai. Saat ini panitia selain terus mengumpulkan dana pembangunan juga menyiapkan kajian-kajian teknis pembangunan masjid, seperti uji ketinggian menara yang akan dibangun setinggi 114 meter.

“Mohon doanya saja semoga pembangunan masjid berjalan lancar dan bisa selesai lebih cepat,” katanya.

Bendahara Panitia Pembangunan Masjid Taman Sriwedari, Yosca Herman Soedrajat, mengatakan antusiasme masyarakat untuk menyumbang pembangunan masjid sangat besar.

Panitia mencatat dana sumbangan umat yang terkumpul mencapai Rp500 juta lebih.

“Donasi tidak hanya dari masyarakat Solo, tapi juga luar Solo,” kata Herman.

Herman optimistis dalam tiga bulan ke depan dana pembangunan masjid telah tercapai Rp160 miliar sesuai dengan kebutuhan anggarannya. Saat ini beberapa BUMN berkomitmen membantu dana pembangunan masjid tersebut. Proposal pembangunan masjid telah disebar panitia ke perusahaan-perusahaan.

lowongan pekerjaan
PT. Astra International Tbk-isuzu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…