Ilustrasi pengungsi Suriah (Reuters) Ilustrasi pengungsi Suriah (Reuters)
Minggu, 11 Februari 2018 16:45 WIB Internasional Share :

PBB Pertimbangkan Gencatan Senjata 30 Hari di Suriah

PBB mempertimbangkan gencatan senjata selama 30 hari di Suriah. 

Solopos.com, SOLO – Dewan Keamanan PBB mempertimbangkan permintaan gencatan senjata di Suriah. Langkah tersebut dilakukan untuk agar bantuan dan evakuasi warga yang sakit dan terluka.

Sebuah resolusi, yang disusun oleh Swedia dan Kuwait, diedarkan kepada 15 anggota dewan pada Jumat (9/2/2018). Diperlukan sembilan suara yang mendukung dan tidak ada veto dari Rusia, China, Amerika Serikat, Inggris atau Prancis agar resolusi tersebut dapat dijalankan.

PBB menyeru pada Selasa (6/2/2018), untuk melakukan gencatan senjata kemanusiaan segera di Suriah setidaknya selama sebulan, sebuah seruan yang didukung oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Kamis (8/2/2018). Namun, Duta Besar Rusia untuk Perserikatan Bangsa Bangsa Vassily Nebenzia mengatakan, “itu tidak realistis. Kami ingin melihat gencatan senjata, akhir perang di Suriah, tapi para teroris, saya tidak yakin mereka sepakat.”

Baca juga:

Sekutu Suriah, Rusia, telah memberikan 11 veto tentang kemungkinan tindakan Dewan Keamanan di Suriah sejak perang sipil dimulai pada tahun 2011, yang melindungi pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Rancangan resolusi Perserikatan Bangsa Bangsa, yang dilihat oleh Reuters, juga “meminta semua pihak segera mencabut pengepungan daerah-daerah penduduk, termasuk di Ghouta Timur, Yarmouk, Foua dan Kefraya. Para diplomat di dewan diharapkan untuk membahas teks tersebut pada Senin. Tidak segera jelas kapan atau apakah Swedia dan Kuwait akan mengajukan rancangan resolusi tersebut untuk diputuskan.”

Diplomasi tidak membuat kemajuan dalam mengakhiri perang, yang sekarang mendekati tahun kedelapan, yang telah menewaskan ratusan ribu orang dan memaksa setengah dari 23 juta populasi Suriah mengungsi dari rumah mereka. Jutaan orang dipaksa pergi sebagai pengungsi.

Sebelumnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan mitranya Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis dini hari (8/2/2018), melalui telepon, sepakat untuk menyelenggarakan pertemuan puncak berikutnya antara Turki, Rusia, dan Iran soal Suriah di Istanbul.

Dalam pembicaraan telepon itu, kedua pemimpin membahas krisis Suriah, termasuk perkembangan terbaru di wilayah Idlib dan Afrin.

Presiden Rusia dan Presiden Turki juga bertukar pandangan soal proses Astana, kata sumber-sumber di kantor kepresidenan seperti dikutip kantor berita negara Turki, Anadolu.

Erdogan dan Putin setuju untuk mempercepat pembentukan titik-titik pengamatan yang baru di zona-zona penurunan ketegangan di Idlib.

Erdogan juga memaparkan kepada Putin soal Operasi Ranting Zaitun di wilayah barat laut Suriah, Afrin, yang diluncurkan oleh militer Turki pada 20 Januari.

Pertemuan puncak lalu soal Suriah berlangsung di kota Laut Hitam Rusia, Sochi, pada 22 November 2017 dan dihadiri oleh presiden Turki, Rusia, dan Iran.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…