Polisi memperluas pemasangan garis polisi hingga pagar luar Gereja St Lidwina, Sleman, Minggu (11/2/2018). (Harian Jogja/Abdul Hamid Razak) Polisi memperluas pemasangan garis polisi hingga pagar luar Gereja St Lidwina, Sleman, Minggu (11/2/2018). (Harian Jogja/Abdul Hamid Razak)
Minggu, 11 Februari 2018 17:16 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Muhaimin Tuding Ada Skenario Membuat Jogja Tidak Aman

Selama ini masyarakat bawah sangat merindukan kedamaian dan ketentraman

Solopos.com, JOGJA-Pendiri Forum Persaudaraan Umat Beriman, Kiai Abdul Muhaimin mengungkapkan kesedihan dan keprihatinan atas kasus penyerangan di Gereja St.Lidwina, Gamping, Sleman.

Ia yang sudah lebih dari 25 tahun merawat kebersamaan dan kerukunan antar umat beragama merasa terpukul masih terjadinya kekerasan. Namun, Muhaimin meminta semua pihak untuk tidak saling tuduh di internal masing-masing agama dan kelompok.

“Ini mesti ada skenario tersembunyi. Ada orang yang tidak suka Jogja rukun, supaya orang saling tuduh,” kata Muhaimin, melalui sambungan telepon, Minggu (11/2/2018).

Muhaimin mengatakan, dari ratusan kali menggelar acara dialog lintas agama dan budaya, selama ini masyarakat bawah sangat merindukan kedamaian dan ketentraman. Mereka sudah merasa nyaman hidup berdampingan dengan berbagai suku, agama, dan ras.

Namun, terkadang akibat ulah para elit politik yang melakukan manuver-manuver demi kepentingan golongan berpotensi terjadinya letupan-letupan konflik di masyarakat. Tidak jarang elit politik justru memanas-manasi masyarakat di tingkatan bawah. “Mestinya tokoh politik dalam melakukan manuver bisa menjadi pencerahan, bukan sebaliknya,” ucap Muhaimin.

Pemimpin Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kotagede ini juga meminta aparat penegak hukum dan pemerintah tegas dalam menindak pelaku-pelaku intoleransi atau benih-benih yang berpotensi terjadinya gesekan. Ia sempat menyayangkan kejadian pembatalan bakti sosial yang digelar salah satu gereja di Banguntapan, Bantul. “Semestinya aparat melindungi bagaimana acara bisa berjalan lancar, bukan malah menakut-nakuti,” tandas Muhaimin.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…