Warga Kliripan yang menunjukkan tembok penyangga mulut terowongan Sunoto yang tertutup akibat longsoran tanah, Kamis (9/2/2018). (Beny Prasetya / Harian Jogja) Warga Kliripan yang menunjukkan tembok penyangga mulut terowongan Sunoto yang tertutup akibat longsoran tanah, Kamis (9/2/2018). (Beny Prasetya / Harian Jogja)
Minggu, 11 Februari 2018 05:20 WIB Beny Prasetya/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Menguak Kejayaan Tambang Mangan di Hargorejo

Mungkin awalnya tak banyak orang mengetahui bagaimana Dusun Kliripan, Hargorejo, Kokap ternyata menyimpan sumber daya yang unik di dalamnya

Solopos.com, KULONPROGO– Mungkin awalnya tak banyak orang mengetahui bagaimana Dusun Kliripan, Hargorejo, Kokap ternyata menyimpan sumber daya yang unik di dalamnya.

Baru setelah pemberitaan terkait adanya upaya pembanguan museum geologi di dusun tersebut, barulah segenap masyarakat mengetahui adanya tambang yang konon katanya telah dibangun dari era penjajahan Belanda.

Bernama Tambang Mangan, tambang itu memiliki luas 8860 meter persegi. Kata Mangan di nama tambang itu diambil langsung senyawa Mangan yang merupakan komoditas satu-satunya di tambang itu. Keempat pintu tambang yang itu juga saling terintergrasi alias saling berhubungan. Bahkan salah satu terowongan yang bernama PPTM.

Hal itu dikatakan Muryanto, warga Kliripan yang dulunya juga sempat bekerja di Tambang Mangan. Muryanto mengungkapkan bahwa saat bekerja dirinya baru berusia 20 tahun. Saat ini, dirinya berusia 60 tahun.

“Saat itu [tahun 1972] perusahaan dijalankan PT Pertambangan Wonokembang Kliripan [PWK], bahkan kita sempat melakukan ekspor selama dua kali dan setiap kali melakukan ekspor kita mengirim Mangan seberat 4000 ton,” jelasnya.

Kendati telah mengirim Mangan seberat 8.000 ton ke Jepang, PT PWK akhirnya tutup di tahun 1976. Dimana menurut Muryanto, PT PWK saat itu tidak mendapat keuntungan akibat biaya produksi sudah tidak seimbang dengan pendapataan.

“Kalau yang masa Belanda dan Jepang, tutupnya tambang karena perbedaan kekuasaan, baru setelah di Indonesia merdeka baru di mulai lagi sekitar tahun 1950an,” jelanya.

Saat ini kondisi Tambang Mangan tidak bisa di masuki warga. Yang mana seluruh mulut tambang rusak tertimbun tanah dan air. Hal itu disebabkan terowongan Sunoto, Holiday, dan ITB yang berjenis horisontal tertutup timbunan tanah, dan mengakibatkan terowongan PPMT yang berada di atas bukit menjadi sumur karena terowongan lain yang berada di lembah tidak dapat mengaliri air yang ditampung terowongan sedalam 80 meter itu.

Jika ada wisatawan yang datang, saat ini pelancong hanya bisa melihat sisa reruntuhan dan benda peninggalan produksi tambang. Benda berupa palu tambang, dongkrak, peta tambang, hingga foto dokumentasi terkait tambang itu disimpan di rumah salah seorang warga Kliripan bernama Warto.

“Saat ini yang datang hanya sebatas studi, melihat kadar keasaman dan mineral lainnya di tambang ini,” kata Muryanto.

Namun begitu, Dinas Kebudayaang Kulonprogo sedang berusaha mengubah Kliripan dan bekas Tambang Mangan itu. Pada 2018 ini Dinas Kebudayaan berusaha membeli bukti kepemilikan lahan dari warga setempat.

Hal itu dilakukan agar Dinas Kebudayaan dapat membangun fasilitas penunjang Tambang Mangan sebagai wisata edukasi berbasis budaya. Bahkan tidak tanggung, di tahun-tahun mendatang, Disbud akan menganggarkan untuk membangun museum tambang.

“Dinas Kebudayaan akan memberikan bantuan pengembangannya. Asalkan kawasan itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Yang perlu diperhatikan adalah pelestarian budaya pertambangan yang sudah ada dari zaman dulu bersama pengembangannya sebagai destinasi budaya dengan pariwisata,” Kata Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo.

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…