Yudo Utomo, 34, berbaring ditemani ibunya, Kasih, di rumah mereka di Gang Punden Jl. Gajahmada, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jumat (9/2/2018) siang. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Yudo Utomo, 34, berbaring ditemani ibunya, Kasih, di rumah mereka di Gang Punden Jl. Gajahmada, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jumat (9/2/2018) siang. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Minggu, 11 Februari 2018 07:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

KISAH TRAGIS
Perjuangan Kasih Hidupi Anaknya yang Lumpuh Selama 34 Tahun

Kisah tragis, seorang pria di Kota Madiun mengalami kelumpuhan sejak bayi kini hidupnya bergantung kepada ibunya.

Solopos.com, MADIUN — Kisah seorang pria asal Kota Madiun bernama Yudo Utomo yang selama hidupnya berbaring di tempat tidur karena kelumpuhan memicu kepiluan. Pria 34 tahun ini menggantungkan hidup sepenuhnya kepada sang ibu.

Ibunda Yudo, Kasih, 55, menceritakan Yudo mengalami kelumpuhan sejak usia 10 hari. Dan dua tahun kemudian sang suami meninggalkan Kasih dan Yudo.

Sejak saat itu, Kasih menjadi orang tua tunggal bagi Yudo yang kondisinya semakin hari semakin buruk.

Seluruh kebutuhan Yudo dan rumah tangga dipenuhi dengan keringat Kasih. Terkadang utang pun menjadi solusi saat dirinya benar-benar tidak punya uang.

Selama ini Kasih berjualan gorengan keliling kampung. Kasih mengambil gorengan dari tetangga, kemudian menjualnya berkeliling kampung dari pagi sampai siang.

Dia mengaku tidak berani lama-lama meninggalkan Yudo di rumah sendiri. Oleh sebab itu, dia hanya berjualan di sekitar rumah. (baca: Kisah Tragis Yudo Utomo, Pria Madiun Alami Kelumpuhan 34 Tahun)

Pendapatannya pun minim yakni Rp10.000 sampai Rp13.000 per hari. Satu gorengan, dia hanya mengambil untung Rp100 sampai Rp200.

Barang jualannya itu pun terkadang tidak habis. “Kalau ga habis kadang dimakan sendiri kadang juga dikembalikan,” ujar Kasih saat ditemui Madiunpos.com di rumahnya Gang Punden Jl. Gajahmada, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jumat (9/2/2018).

Selain berjualan gorengan, Kasih pun mengambil pekerjaan lain sebagai buruh cuci pakaian milik tetangga maupun bersih-bersih rumah. Tetapi pendapatannya tidak tentu karena tidak setiap hari tetangganya membutuhkan.

Meskipun usianya sudah kepala lima, Kasih mengaku tetap bersemangat untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan anak semata wayangnya itu.

Kondisi anaknya yang mengalami kelumpuhan itu sudah diterima secara ikhlas sejak dulu.

Hla ini anak saya lo. Ini amanah dari Tuhan. Saya wajib merawatnya,” ujar dia.

Di rumah berukuran sekitar 5 meter x 5 meter itu Kasih dan Yudo tinggal bersama adiknya bernama Poniyati, 47, seorang janda beranak satu bernama Syifa.

Kasih mengaku menerima bantuan dari dealer sepeda motor dan Badan Amil Zakat yang nilainya setiap bulan Rp700.000. Selain itu, dirinya juga mendapat bantuan beras untuk orang miskin (raskin) dari pemerintah.

Kasih hanya berharap terus diberi kesehatan sehingga bisa bekerja dan memenuhi seluruh kebutuhan Yudo.

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…