Ilustrasi tumbuh kembang anak. (khoahoc.tv) Ilustrasi tumbuh kembang anak. (khoahoc.tv)
Minggu, 11 Februari 2018 20:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

KESEHATAN SEMARANG
Anak Bertinggi Badan Lebih Rendah Ketimbang Standar Usia Terus Susut

Kesehatan warga Kota Semarang diklaim lebih baik seiring semakin berkurangnya anak bertinggi badan lebih rendah ketimbang standar usianya atau stunting.

Solopos.com, SEMARANG — Dinas Kesehatan Kota Semarang mengklaim kasus stunting atau kondisi anak memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya di wilayah ini terus menyusut jumlahnya dari tahun ke tahun.

Stunting itu penyebabnya multifaktor. Utamanya gangguan pertumbuhan setelah lahir. Kaitannya dengan pemenuhan asupan gizi atau intake,” papar Kepala Dinkes Kota Semarang, Widoyono, di Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (7/2/2018). Berdasarkan data Dinkes Kota Semarang, kasus stunting pada 2014 tercatat ada 4,06%, 2015 tercatat 4,1%, kemudian 2016 menurun menjadi 3,66%, dan terus menyusut menjadi 2,67% pada 2017.

Meskipun berkaitan erat dengan pemenuhan asupan gizi, diakuinya, tidak mesti kasus stunting terjadi pada keluarga dengan ekonomi lemah, sebab faktor ketidaktahuan juga disebutnya sangat memengaruhi pemenuhan asupan gizi tersebut. “Asupan gizi ini kan erat kaitannya dengan faktor ketidakmampuan dan ketidaktahuan. Ketidakmampuan terjadi pada masyarakat ekonomi lemah, sementara ketidaktahuan bisa terjadi pada siapa pun,” jelasnya.

Ia mencontohkan anak yang ditinggal kerja orang tuanya sehingga dititipkan kepada kerabatnya, kakek-neneknya, atau mungkin pembantu yang ternyata tidak tahu pentingnya asupan gizi saat masa tumbuh kembang. Periode golden age atau 1.000 hari sejak kehidupan pertama dalam kandungan, kata dia, merupakan masa sangat penting dalam pemenuhan asupan gizi yang memengaruhi tumbuh kembang selanjutnya terhadap anak.

“Kalau dititipkan pembantu, misalnya, bisa saja dikasih makanan apa yang penting anaknya diem, enggak rewel. Tetapi, tidak melihat ketercukupan asupan gizi atau intake yang penting bagi anak,” jelas Widoyono.

Menurut dia, kasus stunting di Kota Semarang juga tersebar menyeluruh di 16 kecamatan yang tidak selalu menunjukkan kondisi keterpenuhan gizi tidak mesti hanya dipengaruhi tingkat ekonomi atau kesejahteraan masyarakat. Apalagi, imbuh dia, urbanisasi atau perpindahan masyarakat dari desa ke kota tidak bisa dicegah secara mudah sehingga banyak kemudian muncul permukiman-permukiman kumuh yang ada di kawasan kota besar.

“Ya, memang erat kaitannya gizi dengan ketidakmampuan. Namun, kami kan juga sudah menggerakkan kegiatan posyandu di masyarakat sebagai salah satu upaya ketercukupan pemenuhan gizi masyarakat,” kata Widoyono.

Dengan keberadaan posyandu, kata dia, balita mendapatkan berbagai makanan bergizi secara gratis, seperti bubur kacang hijau yang semuanya dipersiapkan secara swadaya oleh masyarakat setempat. “Kalau untuk temuan kasus stunting, kami lakukan intervensi. Kebetulan, kami sudah memiliki Rumah Gizi di kawasan Banyumanik, Semarang. Untuk pencegahan, kami terus sosialisasi, salah satunya lewat posyandu,” kata dokter yang menjabat kepala dinas kesehatan (dinkes) di Kota Semarang itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…