Alat berat mengeruk sampah dan lumpur selokan di sisi utara jalan Semarang-Solo, Boyolali, untuk membersihkan dan memperlancar aliran air, beberapa waktu lalu. (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos) Alat berat mengeruk sampah dan lumpur selokan di sisi utara jalan Semarang-Solo, Boyolali, untuk membersihkan dan memperlancar aliran air, beberapa waktu lalu. (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos)
Minggu, 11 Februari 2018 11:15 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

INFRASTRUKTUR BOYOLALI
Selokan Dikeruk, Genangan di Jalan Solo-Semarang Wilayah Bangak Berkurang

Genangan air akibat luapan air selokan saat hujan di jalan Solo-Semarang wilayah Bangak, Boyolali, sudah berkurang setelah selokan dikeruk.

Solopos.com, BOYOLALI — Intensitas genangan air di ruas jalan Semarang-Solo kawasan Bangak, Kecamatan Banyudono, Boyolali, akibat luapan selokan saat hujan kini diklaim sudah berkurang.

Berdasarkan pengamatan Solopos.com dalam beberapa waktu terakhir, kawasan sebelah selatan pabrik buku Kiky tersebut kini jarang timbul genangan parah saat hujan. Meski masih ada tumpahan air dari selokan, genangan itu tidak mengganggu arus lalu lintas di ruas utara atau arah Semarang menuju Solo.

Genangan parah hanya terjadi beberapa kali pada saat hujan sangat lebat, seperti yang terjadi pada Selasa (8/2/2018) lalu. Saat itu, air meluber hingga menutup lajur kiri ruas Solo-Semarang tersebut.

Pengguna jalan pun memilih menghindar genangan agar tidak mengalami kecelakaan akibat terjerembap ke dalam lubang yang tertutup air. Akibatnya, arus lalu lintas yang digunakan hanya lajur kanan sehingga antrean kendaraan pun terjadi meskipun tidak terjadi kemacetan.

Sementara itu, pada musim penghujan tahun sebelumnya, genangan parah ini terjadi hampir setiap kali hujan mengguyur wilayah Boyolali. Genangan ini terjadi akibat meluapnya selokan di sisi utara.

Selain karena selokan cukup sempit dan tak mampu menampung air hujan, kondisi ini diperparah dengan tumpukan sampah dan tebalnya lapisan lumpur hingga menyebabkan pendangkalan. Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) mengeruk selokan menggunakan satu alat berat.

Suparno, salah satu pekerja yang ditemui Solopos.com saat itu mengatakan pengerukan itu dilakukan di selokan sepanjang Boyolali Kota hingga wilayah Banyudono. “Dari Boyolali Kota sampai Banyudono, tapi tidak semuanya. Yang dikeruk yang di pinggir jalan saja,” ujarnya.

Terpisah, seorang pengguna jalan asal Kartasura, Sukoharjo, Hardiman, 50, mengaku bersyukur kawasan itu tidak selalu tergenang seperti tahun sebelumnya. Dia berharap masyarakat ikut menjaga dengan tidak membuang sampah sembarangan ke selokan atau aliran air lainnya.

“Sekarang sudah jarang banjir [tergenang]. Semoga selokan bisa dijaga kebersihannya sehingga tidak bikin pampat,” ucapnya saat berbincang dengan Solopos.com di Boyolali, Sabtu (10/2/2018).

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…