Suasana Karnaval Budaya Grebeg Sudiro 2018 di kawasan Pasar Gede, Minggu (11/2/2018) sore. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos) Suasana Karnaval Budaya Grebeg Sudiro 2018 di kawasan Pasar Gede, Minggu (11/2/2018) sore. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)
Minggu, 11 Februari 2018 19:35 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

IMLEK 2018
Soal Merajut Kebinekaan, Ini Kata Wali Kota saat Grebeg Sudiro

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo membuka Grebeg Sudiro yang merupakan bagian dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek 2018.

Solopos.com, SOLO — Ribuan orang yang rela berpanas-panasan di kawasan Pasar Gede, Solo, Minggu (11/2/2018) siang. Mereka datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan prosesi pembukaan Karnaval Budaya Grebeg Sudiro 2018.

Acara tersebut diadakan masyarakat Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, bekerja sama dengan Panitia Bersama Imlek 2018 Kota Solo. Para penonton tersebut menyimak prosesi pembukaan Karnaval Budaya Grebeg Sudiro di panggung utama tenggara Tugu Jam Pasar Gede.

Karnaval Budaya Grebeg Sudiro 2018 dibuka Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo. Orang nomor satu di Kota Bengawan tersebut mengibarkan bendera start sebagai tanda peserta karnaval yang telah berbaris rapi di Jl. Urip Sumoharjo mulai berjalan dan unjuk kebolehan. Grup drumben Gita Pamong Praja Pemkot Solo menjadi peserta pertama dalam karnaval.

Tepuk tangan meriah langsung membahana dari ribuan penonton saat sang mayoret berhasil melakukan atraksi mengangkat bass drum dengan gigi sambil berdiri di tumpukan bass drum lain yang disusun tinggi.

Tepuk tangan meriah juga dihadiahkan para penonton kepada kelompok peserta lain yang tampil memukau. Total ada 66 kelompok peserta yang ikut memeriahkan Karnaval Budaya Grebeg Sudiro 2018. Capaian jumlah kelompok peserta tersebut diklaim panitia menjadi yang terbanyak selama penyelenggaraan karnaval sejak 2008.

Dibanding pelaksanaan pada tahun lalu, jumlah peserta karnaval tahun ini lebih banyak 16 kelompok. Peserta karnaval antara lain dari perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sudiroprajan, kelompok seni kelurahan di Solo, pedagang pasar, siswa sekolah, hingga kelompok seni dari luar Solo.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, peserta Karnaval Budaya Grebeg Sudiro 2018 juga diarahkan berjalan menempuh jarak kurang lebih 4 kilometer (km) dengan rute Pasar Gede-Jl. Jenderal Sudirman-Gladag-Lodji Wetan-Jl. Kapten Mulyadi-Ketandan- Jl. R.E. Martadinata-Jl. Ir. Juanda, dan kembali atau finis di halaman Pasar Gede.

Hal yang berbeda kali ini penampilan peserta karnaval tersebut dinilai. Mereka yang dianggap tampil paling menarik dan meriah bakal diganjar hadiah oleh panitia. Adanya penilaian itu diharapkan menjadi motivasi bagi para peserta untuk bisa tampil total.

Sesuai namanya, karnaval kali ini benar-benar menampilkan peserta yang menyuguhkan sisi budaya yang sangat kental, terutama menyangkut tradisi Jawa dan Tionghoa. Sebagai contoh, beberapa kelompok peserta karnaval tampak menampilkan tarian lembu sura, pentas rampak Joko Tingkir, hingga berkostum tokoh wayang.

Hal itu menujukkan mereka ingin menampilkan bentuk tradisi Jawa. Sedangkan tradisi etnis Tionghoa, tersaji dari peserta yang menyuguhkan pentas barongsai hingga berkostum dewa-dewi, raja-putri, biksu, dan lain sebagainya.

Ketua Panitia Grebeg Sudiro 2018 Bul Hartomo, mengatakan Karnaval Budaya Grebeg Sudiro menjadi gambaran telah terjadi pembauran etnis dan budaya yang baik di Kelurahan Sudiroprajan, khususnya antara Jawa dan Tionghoa. Pembauran tersebut terjadi melalui kehidupan tradisi budaya, kesenian, olahraga, pelayanan kesehatan, dan ekonomi.

Hartomo menyampaikan Karnaval Grebeg Sudiro membawa pesan agar masyarakat Solo khususnya dan Indonesia pada umumnya harus bisa menjaga kerukunan umat beragama dan etnis.

“Tahun ini acara karnaval tampak lebih meriah ketimbang tahun lalu. Pesertanya juga paling banyak dari sejarah penyelenggaraan karnaval ini. Kami mencatat ada 66 kelompok peserta dengan jumlah 2.000 orang lebih yang tampil kali ini. Antusiasme penonton saya lihat sungguh menakjubkan. Cuaca sangat mendukung sekali. Tahun lalu kan gerimis, sekarang cerah. Karnaval ini menjadi sarana interaksi budaya di Sudiroprajan khususnya,” jelas Hartomo saat ditemui Solopos.com di sela-sela acara, Minggu.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, dalam Karnaval Budaya Grebeg Sudiro 2018 ada kue keranjang yang disusun dalam dua replika bangunan, yakni Loji Gandrung (Rumah Dinas Wali Kota Solo) dan Monumen Banjarsari (Monjari). Selain kue keranjang, beberapa peserta karnaval juga membawa jodang berisi makanan yang diklaim menjadi khas Sudiroprajan, seperti bakpao, gembukan, janggelut, dan onde-onde.

Di akhir acara, sekitar 4.000 kue keranjang disebar panitia Grebeg Sudiro untuk diperebutkan oleh masyarakat di seputaran Pasar Gede. Wali Kota Solo, dalam sambutannya, mengajak masyarakat Kota Solo menjaga keharmonisan di antara kemajemukan budaya dan etnis yang berkembang di Kota Bengawan.

Sinergitas antarmasyarakat diyakini akan semakin memajukan Kota Solo. Rudy menilai merajut kebinekaan masyatakat bukanlah perkejaan yang mudah, namun juga bukan pekerjaan yang susah. Dia meminta masyarakat mengelola kemajemukan dengan cara saling menghormati dan mengerti.

“Merajut kebinekaan bukan pekerjaan yang mudah, tapi juga tidak susah. Yang perlu kita tingkatkan ialah gotong royong, kebersamaan, untuk memajukan Kota Solo. Kota Solo selama ini adalah kota yang nyaman. Kota Solo mampu mengelola kemajemukan yang ada. Kemajemukan bisa dikelola sebaik-baiknya sehingga bisa bertahan selamanya,” tutur Rudy.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…