Kedai ayam-ikan bakar dan goteng khas Lamongan juga tak kuasa menahan air bah di Kota Semarang, Jateng. (Facebook.com-Ayah Nya Afa) Kedai ayam-ikan bakar dan goteng khas Lamongan juga tak kuasa menahan air bah di Kota Semarang, Jateng. (Facebook.com-Ayah Nya Afa)
Minggu, 11 Februari 2018 12:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

BENCANA JATENG
DPRD Tuding Penanganan Banjir Semarang Tak Maksimal, Ini Alasannya...

Bencana banjir di Kota Semarang yang merupakan ibu kota Jateng didesak DPRD setempat untuk dipercepat penanganannya.

Solopos.com, SEMARANG — Kalangan DPRD Kota Semarang menduding penanganan bencana banjir di ibu kota Jawa Tengah ini oleh eksekutif pemerintahan setempat tidak maksimal. Mestinya, tidak ada halanagan bagi eksekutif Pemkot Semarang untuk menangani banjir dan rob atau limpasan air laut ke daratan di daerah ini, khususnya Semarang bagian timur.

“Penanganan banjir dan rob sudah masuk salah satu prioritas program wali kota dan wakil wali kota Semarang,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Jumat (9/2/2018).

[Lihat juga Foto-Foto Banjir Landa Semarang Lagi…]

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengatakan Kota Semarang sudah memiliki Peraturan Daerah Nomor 7/2014 tentang Rencana Induk Penanganan Drainase yang bisa dijadikan sebagai acuan. Artinya, simpul dia, upaya penanggulangan banjir dan rob sudah mendapatkan payung hukum yang jelas sehingga tinggal melaksanakan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menangani banjir dan rob.

Kan tinggal laksanakan saja, sudah ada perdanya. Tentunya, dibutuhkan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),” katanya.

Mestinya, tutur Agung Budi Margono, upaya penanganan bencana banjir yang dilakukan eksekutif Pemkot Semarang bisa lebih baik. Nyatanya, eksekutif Pemkot Semarang yang dipimpin Wali Kota Hendrar Prihadi dan Wakil Wali Kota Hevearita Gunaryanti tak tampak memaksimalkan wewenang yang telah diamanatkan peraturan-peraturan daerah yang telah disepakati para wakil rakyat di DPRD Kota Semarang.

[Baca juga Klaim Atasi Banjir dalam 45 Menit, Wali Kota Malah Kebanjiran Kritik]

Dicontohkannya tentang normalisasi Sungai Tenggang yang sampai saat ini masih terkendala pembebasan lahan sehingga belum rampung. “Seperti Sungai Tenggang yang rencananya dinormalisasi. Sampai sekarang proses pembebasan lahan belum selesai. Pemerintah Kota Semarang harus bisa mempercepat agar segera rampung,” katanya.

Mengenai kondisi Jl. Kaligawe sebagai akses utama penghubung Semarang-Demak, Jawa Tengah yang kerap tergenang banjir dan rob, ia mengatakan tidak bisa dilepaskan dari tingginya genangan rob. “Beberapa waktu lalu ada sungai yang dibendung untuk menanggulangi rob. Tetapi, kalau tidak diimbangi dengan penyediaan pompa air yang memadai percuma, baik dari kapasitas maupun jumlahnya,” katanya.

Ia mengatakan ketersediaan dan kapasitas pompa air yang ditempatkan untuk menyedot banjir dan rob harus diperhitungkan dan jika memang kurang harus ditambah agar upaya yang dilakukan bisa efektif. “La kan sudah ada perdanya juga. Dalam perda itu juga sudah jelas apa yang harus dilaksanakan, termasuk estimasi biayanya. Ini untuk jangka panjang. Kalau pompa air kan jangka pendek,” katanya.

[Baca juga Ini Solusi Banjir Jl. Kaligawe ala DPRD Semarang]

Berkaitan dengan usulan peninggian Jl. Kaligawe untuk mengatasi bencana banjir di kawasan Semarang itu, Agung mengatakan bisa saja dilakukan, tetapi harus melalui kajian mendalam, mulai anggaran biaya, waktu pengerjaan, hingga dampak yang ditimbulkan. “Lingkungan sekitar juga harus diperhatikan. Jangan sampai jalannya kering, namun rumah warga terendam banjir. Jadi, penanganan banjir dan rob memang harus dilakukan secara terpadu,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Semarang Kumbino mengatakan upaya penanganan banjir dan rob sudah dilakukan secara maksimal. “Kami sudah siagakan dan operasikan pompa-pompa di sejumlah lokasi. Kalau soal koordinasi dengan Pemprov Jateng dan Kementerian PU, selama ini terus kami lakukan,” katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…