Foto Ilustrasi Ujian Nasional JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto
Sabtu, 10 Februari 2018 06:40 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

USBN SD
Sekolah Diberi Kewenangan Koreksi Soal Esai

Soal pilihan ganda dikoreski oleh komputer.

Solopos.com, JOGJA–Disdikpora DIY akan memberikan kewenangan kepada guru di sekolah untuk mengoreksi soal esai dalam pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) 2018 untuk Sekolah Dasar (SD). Adapun soal pilihan ganda akan dikoreksi dengan sistem komputer oleh petugas dari Disdikpora DIY.

Disdikpora DIY tidak mempersoalkan terjadinya subjektivitas dalam proses koreksi tersebut, mengingat hasil USBN tidak sepenuhnya menjadi syarat untuk masuk ke SLTP. Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan, pihaknya sudah bersepakat dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, bahwa soal USBN SD akan disusun oleh Disdikpora DIY. Sistem itu sebenarnya sama dengan tahun sebelumnya meski saat ini, SD menjadi kewenangan kabupaten/kota, namun pembuatan soal tetap dipegang Disdikpora DIY agar soalnya seragam. “Yang membedakan, hanya soal tersebut ada esainya. Soal yang membuat provinsi dan digandakan provinsi,” terangnya saat ditemui Harianjogja.com di kantornya, Jumat (9/2/2018) siang.

Adapun komposisi soal terdiri atas 10% soal esai dan sisanya pilihan ganda yang akan mengujikan tiga mata pelajaran. Aji mengatakan, sistem koreksi akan dilakukan dengan cara berbeda. Soal pilihan ganda akan dikoreksi Disdikpora DIY menggunakan sistem komputer.

Sedangkan soal esai proses koreksi di serahkan ke guru di setiap sekolah. Sehingga lembar jawaban antara soal pilihan ganda dengan soal esai akan dibedakan, sehingga saat ujian selesai, lembar jawaban komputer (LJK) pilihan ganda bisa langsung didistribusikan ke provinsi sedangkan lembar jawaban esai ditahan di sekolah untuk dikoreksi guru.

“Lembar jawaban [esai] itu dikoreksi guru, lalu oleh guru dikirim secara kolektif ke dinas untuk ditambahkan dengan nilai,” imbuhnya.

Ia mengatakan, koreksi soal esai tersebut hanya dilakukan oleh satu orang. Namun, ia meyakini para guru akan melaksanakan tugas dengan bijak tanpa bertindak dengan membetulkan jawaban yang salah. Selain itu, akan dikeluarkan dua jenis nilai tersebut, yaitu nilai objektif dari hasil penilaian pilihan ganda yang dikoreksi dengan komputer dan nilai keseluruhan yang merupakan perpaduan antara kedua jenis soal tersebut.

Nilai objektif tersebut yang nanti dimungkinkan akan dipakai sebagai salah satu syarat tes untuk melanjutkan pendidikan ke SLTP. Hasil USBN saat ini tidak sepenuhnya bisa menjadi dasar tes masuk ke SLTP karena menggunakan sistem zonasi sehingga prestasi akademik tidak menjadi persyaratan utama.

“Kunci jawaban itu kan benar tidak benar, tetapi jawaban yang benar itu kalau jawabannya menyentuh hal-hal tertentu. Kalau itu dikerjakan siswa SD kan guru tentu tahu benar atau salah,” imbuh dia.

Aji tidak mempersoalkan jika ada guru yang berbuat curang dalam mengoreksi lembar jawaban esai, karena yang sepenuhnya akan menjadi pertimbangan ukuran adalah hasil nilai objektif yang dikoreksi komputer. Namun, manfaat esai tersebut bisa sebagai ukuran kemampuan suatu sekolah. “Sehingga untuk membandingkan dengan yang kain bukan hasil esainya tetapi objektif tesnya, kalau guru memberikan nilai berapapun pada esai ya tidak berpengaruh,” kata dia.

Ia menegaskan, meski hasil USBN tidak sepenuhnya menjadi syarat masuk SLTP namun bisa dipakai untuk mengukur dan evaluasi sekolah terkait capaian target. “Nanti tetap kami umumkan pemeringkatan SD berdasarkan hasil USBN tersebut,” kata dia.

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…