Yudo Utomo, 34, berbaring ditemani ibunya, Kasih, di rumah mereka di Gang Punden Jl. Gajahmada, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jumat (9/2/2018) siang. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Yudo Utomo, 34, berbaring ditemani ibunya, Kasih, di rumah mereka di Gang Punden Jl. Gajahmada, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jumat (9/2/2018) siang. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Sabtu, 10 Februari 2018 19:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

Kisah Tragis Yudo Utomo, Pria Madiun 34 Tahun Alami Kelumpuhan

Kisah tragis, seorang pria berusia 34 tahun mengalami kelumpuhan.

Solopos.com, MADIUN — Yudo Utomo, 34, terbaring lemas dan tiduran beralaskan tikar di rumahnya, Gang Punden Jl. Gajahmada, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jumat (9/2/2018) siang.

Yudo menunggu ibunya yang saat itu sedang berkeliling berjualan gorengan di kampungnya.

Hujan saat itu menerjang dengan deras, rumah sempit berukuran sekitar 5 meter x 5 meter itu dipenuhi barang-barang rumah tangga. Rintik hujan pun menembus celah-celah atap rumah.

Yudo saat itu hanya terdiam dan mengerang-ngerang. Sepanjang usianya, Yudo mengalami kelumpuhan dan cacat. Dari seluruh bagian tubuhnya, hanya leher sampai kepalanya saja yang bisa digerakkan.

Sedangkan bagian tubuh lainnya tidak bisa digerakkan. Kedua tangan Yudo terbujur lurus dan kaku serta tidak bisa ditekuk. Sedangkan kedua kakinya menekuk ke belakang.

Kedua tangan dan kaki Yudo tampak kurus kering dan terlihat tulang berbalut kulit. Yudo pun tidak bisa berbicara. Sesekali air liurnya pun menetes di bantal yang menyokong kepalanya.

Ibunya Yudo, Kasih, 55, mengatakan Yudo sebenarnya lahir secara normal. Namun, saat usianya baru menginjak sepuluh hari Yudo tertimpa badan ibunya karena jatuh. Dirinya sempat takut Yudo meninggal dunia. Ternyata tidak, Tuhan masih mengizinkan Yudo hidup.

“Waktu itu saya menggendong Yudo, kemudian kaki saya tersandung kaki suami dan jatuh. Tubuh saya menimpa Yudo,” kata dia.

Namun, sejak peristiwa itu kondisi fisik Yudo menjadi sakit dan lumpuh. Yudo tumbuh dengan cara yang tidak normal yakni sebagian besar tubuhnya tidak bisa digerakkan.

“Saya sudah membawa Yudo ke rumah sakit. Tetapi tidak bisa disembuhkan,” ujar dia sambil menata posisi kepala anak semata wayangnya itu.

Kasih merawat Yudo dengan penuh kasih sayang. Saat usia Yudo menginjak dua tahun, suaminya meninggalkannya dan menikah lagi dengan perempuan lain.

Hari-hari Kasih merawat Yudo pun semakin sulit, karena merawat seorang diri. Namun, kondisi itulah yang membuatnya semakin kuat dalam menghadapi kenyataan pahit ini.

Saat pagi hari, Yudo dibopong Kasih di ruang depan dan ditidurkan di tikar dengan ditemani kipas angin di sampingnya. Saat malam hari, Kasih kembali membopong Yudo ke kamar.

“Kalau pagi memang sengaja saya bawa ke luar supaya tahu kondisi luar dan tidak bosan di ruangan terus. Kalau malam baru saya bawa masuk ke kamar lagi,” jelas Kasih.

Kondisi Yudo pun kerap sakit-sakitan seperti panas, batuk, dan kejang-kejang. Dia pun membelikan obat dari resep dokter di apotek.

Sedangkan untuk kebutuhan makan, Yudo hanya makan bubur dan buah-buahan yang dilembutkan. Kasih pun menyuapinya karena Yudo tidak bisa makan sendiri.

Begitu juga untuk keperluan mandi, Kasih memandikannya dua kali sehari. “Mandinya cuma dibilasi pakai kain tidak dibilas air. Mandingnya pun di tempat tidur,” ujar dia sambil meneteskan air mata.

Sejak ditinggal suaminya, Kasih menjadi seorang ibu sekaligus sebagai bapak bagi Yudo. Seluruh keperluan Yudo pun dipenuhi Kasih dengan berjualan gorengan keliling kampung.

Dia berharap anaknya itu bisa terus hidup dan menemaninya hingga Tuhan memanggil.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…