Nelayan pantai Depok merapikan jala, Rabu (7/1/2018). (Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja) Nelayan pantai Depok merapikan jala, Rabu (7/1/2018). (Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 10 Februari 2018 12:40 WIB Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Kapal yang Langgar Batas Perairan Berseliweran di Pantai Selatan

Tak hanya melanggar batas wilayah, kapal nelayan luar rusak jala nelayan lokal.

Solopos.com, BANTUL–Para nelayan di pesisir Bantul resah dengan adanya kapal-kapal besar dari luar daerah yang menerobos masuk wilayah nelayan Bantul. Hal tersebut menyebabkan alat tangkap rusak dan hasil tangkapan berkurang.

Ketua Nelayan Pantai Depok Mina Bahari 45, Tarmanto mengatakan rata-rata kapal besar yang melanggar batas wilayah adalah kapal asal Pacitan. Biasanya kapal besar dari luar daerah meningkat jumlahnya di bulan panen ikan yaitu Maret sampai April. Sebab udang cerbung dan bawal putih biasanya mengalami peningkatan populasi. “Rata-rata kapal mereka [luar daerah] berukuran 15 dan 30 gross ton, ketika lewat tengah laut, alas kapalnya merusak jaring nelayan kecil yang diletakkan di tengah,” kata Tarmanto, Jumat (9/2/2018).

Tarmanto mengatakan alat tangkap berupa cantrang yang kapal-kapal besar miliki jelas akan mengurangi hasil tangkapan nelayan kecil. Biasanya para nelayan dari luar daerah tersebut menangkap lobster, kakap, dan kerapu di perairan Bantul saat nelayan Bantul sudah menepi pada pukul 17.00 WIB. “Biasanya mereka beraksi malam hari. Kan pukul 17.00 WIB biasanya nelayan Bantul sudah menepi. Tapi biasanya setelah itu selalu ada operasi dengan Polairut,” kata Tarmanto.

Kepala Satuan Patroli Direktorat Polair Polda DIY AKBP Bayu Herlambang mengatakan tidak adanya pelabuhan di sisi Barat pantai menyebabkan kapal dari Jawa Tengah selalu menerobos batas wilayah. Selama ini, penjagaan batas wilayah DIY hanya ada di sisi Timur yaitu melalui pelabuhan Pantai Sadeng.

Lebih jauh, Bayu mengatakan ada dampak yang ditimbulkan dari lambatnya proses pembangunan pelabuhan Tanjung Adikarta di Kulonprogo. Proses patroli dan pengumpulan barang bukti pun terhambat karena jarak dari perairan Bantul menuju Pantai Sadeng memakan waktu enam jam. Polairut sering kehabisan waktu di jalan dan nelayan yang melanggar batas wilayah langsung kabur dari TKP. “Kami harap Pelabuhan Tanjung Adikarta segera jadi. Nanti di Sadeng dua kapal patroli, di Barat dua kapal patroli. Jadi biar Nelayan sini semakin sejahtera dalam melaut,” kata Bayu.

Ketika pelabuhan Tanjung Adikarta sudah selesai dibangun, Bayu mengatakan Polairut akan mendapat kapal patroli bantuan dari Mabes Polri. Karena untuk menambah jumlah armada, dibutuhkan pelabuhan yang besar.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…