Ilustrasi Becak (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto) Ilustrasi Becak (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)
Sabtu, 10 Februari 2018 21:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Jogja akan Merintis Becak Online

Pemerintah Daerah (Pemda) DIY berencana membuatkan aplikasi semacam Gojek

Solopos.com, JOGJA--Pemerintah Daerah (Pemda) DIY berencana membuatkan aplikasi semacam Gojek, tapi khusus diperuntukkan bagi becak. Dengan adanya aplikasi tersebut maka akan ada kepastian tarif bagi penumpang.

Sehingga harga “nuthuk” pun bisa dihindari. Selain itu, aplikasi juga bisa digunakan penarik becak untuk mendapatkan tips dari toko oleh-oleh setelah berhasil mengantarkan penumpang.

Kepala Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan DIY Hari Agus Triyono mengatakan, wacana tersebut dimunculkan sebagai salah satu upaya untuk memberdayakan moda transportasi tradisional itu. Ia mengaku sudah melemparkan rencana tersebut saat bertemu dengan pengembang perusahaan rintisan.

Ia berkeinginan membuat aplikasi semacam Grab dan Gojek karena selama ini beberapa wisatawan mengeluh karena tarif yang diminta dengan yang disepakati sejak awal kerap berbeda. “Kalau uda ada aplikasi kan rutenya sudah jelas, tarifnya juga. Penumpang jadi merasa nyaman,” jelasnya di Kantor Dinas Perhubungan DIY, Jumat (9/2/2018).

Menurutnya selama ini ada penumpang yang merasa dirugikan saat menumpang becak, sebab ada proses tawar menawar tapi itupun kadang saat sampai lokasi, tarifnya jadi berubah.

Dengan adanya aplikasi maka tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Jika tarif dinilai kurang berkenan, konsumen tinggal membatalkan pesanan. “Sekarang seolah-olah penumpang merasa dipaksa.”

Dengan demikian, ia mengungkapkan akan ada batas tarif bawah dan batas tarif atas, seperti layaknya taksi berbasis aplikasi. Selain itu jika banyak ada pesanan, maka tarif akan naik dengan sendirinya. Keadilan pun bisa diharapkan terwujud.

Ia juga menginginkan, aplikasi ini bisa menunjukkan harga barang-barang di pusat oleh-oleh dan kerajinan, sehingga turis bisa punya bayangan harga. Jika dirasa cocok, wisatawan bisa memesan becak untuk mengantarkannya ke tempat yang dituju.

Saat mengantarkan penumpang ke pusat oleh-oleh itulah penarik becak akan mendapatkan komisi. Sistem yang ia inginkan persis seperti Go-food. Jika becak mengantar penumpang untuk berbelanja, tarifnya akan naik sekian persen dari harga normal.

“Nanti mesti dapet komisi. Kalau sekarang kan masih secara manual. Nganter penumpang terus penarik becak dikasi uang. Nanti kalau itu bisa terwujud, sistemnya kayak go-food, kalau tokonya ikut sistem, penarik becak akan dapet sekian persen dari harga. Misalnya harga sesuatu Rp10.000, trus kalau pakai aplikasi harganya jadi Rp12.000. Rp2.000 itu jadi jatah tukang becak.”

Namun, untuk merealisasikan rencana ini, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengedukasi penarik becak agar melek teknologi. Dengan demikian, Agus menilai perlu adanya koordinasi lintas sektor dengan melibatkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Terkait wacana itu, ia mengaku baru sebatas menyampaikannya pada pengembang? startup. Menurutnya saat ia menyampaikan hal tersebut para pengembang mengaku tertarik dengan ide tersebut dan mengajak diskusi lanjutan.

“Ada ketertarikan dari mereka. Tapi ini baru mimpi dan masih dalam proses. Mksd saya dalam proses karena becak kayuh ciri khas Jogja dan diatur dalam perda. Nanti andong juga bisa masuk dalam sistem ini. Intinya untuk pengembangan pariwisata supaya wisatawan bisa semakin nyaman dan prosesnya makin transparan,” ujar Agus.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…