Perlintasan KA Purwosari terpantau padat hingga pertigaan Kerten saat pengalihan arus simulasi proyek flyover Manahan, Solo. (M.Ferri Irawan/JIBI/Solopos) Perlintasan KA Purwosari terpantau padat hingga pertigaan Kerten saat pengalihan arus simulasi proyek flyover Manahan, Solo. (M.Ferri Irawan/JIBI/Solopos)
Sabtu, 10 Februari 2018 06:35 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

INFRASTRUKTUR SOLO
Warga Tak Setuju Flyover Manahan dan Purwosari Dikerjakan Bareng

Warga Solo berharap flyover Manahan dan Purwosari tak dikerjakan bersamaan.

Solopos.com, SOLO — Keinginan Pemkot Solo agar dua flyover, masing-masing di Manahan dan Purwosari, dikerjakaan bersamaan mendapat resistensi dari warga. Warga berharap kedua flyover itu tak dikerjakan bersamaan.

Warga meyakini jika kedua proyek tersebut dikerjakan bersamaan bakal timbul kemacetan di berbagai ruas jalan di Solo termasuk jalan kampung di sekitar Manahan dan Purwosari. Warga mengusulkan agar pemerintah tidak membangun flyover Manahan dan Purwosari secara bersamaan untuk mengurangi dampak kemacetan.

Seorang warga RT 001/RW 011 Purwosari, Bambang Prabowo, 48, mempertanyakan apakah pemerintah sudah siap dengan rencana skema rekayasa lalu lintas yang bakal diberlakukan pemerintah jika kedua flyover dikerjakan bersamaan. Dia meyakini jalan-jalan kampung di Purwosari pasti akan ikut menjadi korban pelaksanaan proyek flyover Manahan dan Purwosari.

Jalan-jalan kampung diprediksi bakal berubah macet saat jalur utama ditutup untuk pengerjaan proyek flyover. “Jl. Melati dan Jl. Kenanga sekarang sudah ramai dilalui kendaraan. Apa nanti malah tidak menimbulkan kemacetan luar biasa jika digunakan sebagai jalur alternatif saat kedua flyover dibangun bersamaan? Pada malam hari jalanan kampung sini ramai dilalui kendaraan warga yang ingin berwisata kuliner. Sedangkan pada siang hari, jalanan dilalui para pengantar anak sekolah,” jelas Bambang kepada Solopos.com, Jumat (9/2/2018).

Baca:

Bambang menyampaikan hingga kini warga belum mendapat kepastian dari pemerintah terkait jadwal pelaksanaan proyek pembangunan flyover Manahan maupun Purwosari. Warga belum diundang lagi untuk sosialisasi pelaksanaan proyek tersebut.

Dia meminta pemerintah memberikan pemahaman kepada warga soal rencana pembangunan jalan layang itu jauh-jauh hari. Hal itu dibutuhkan warga untuk menyusun langkah antisipasi dalam menghadapi dampak pembangunan flyover.

Seorang warga RW 010 Manahan, Maryanto, 71, juga berpendapat sama dengan Bambang. Dia meminta Pemkot Solo memikirkan kembali usulan pembangunan flyover Purwosari dikerjakan bersamaan dengan flyover Manahan. Dia menyebut saat digelar simulasi rekayasa lalu lintas pembangunan flyover Manahan saja, jalanan Kota Solo sudah begitu macet.

Misalnya Jl. Sam Ratulangi di dekat rumahnya. Menurut Maryanto, lebih baik pembangunan flyover dikerjakan bergantian. “Sebaiknya proyek dikerjakan secara terpisah. Kalau tetap dibangun bersamaan, saya yakin macet akan terjadi di mana-mana,” jelas Maryanto.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…