Sejumlah tokoh ikut meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Taman Sriwedari, Solo, Senin (5/2/2018). (Nicolous Irawan/JIBI/SOLOPOS) Sejumlah tokoh ikut meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Taman Sriwedari, Solo, Senin (5/2/2018). (Nicolous Irawan/JIBI/SOLOPOS)
Sabtu, 10 Februari 2018 05:35 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos Solo Share :

Dukung Pemkot, Pemuda Muhammadiyah Solo Siap Kawal Pembangunan Masjid Sriwedari

Pemuda Muhammadiyah Solo akan mengawal rencana pembangunan masjid di lahan eks THR Sriwedari.

Solopos.com, SOLO — Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Solo mengikuti langkah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah mendukung rencana Pemkot Solo membangun masjid di lahan eks THR Sriwedari. Mereka siap mengawal proses pembangunan masjid yang mereka yakini bakal menjadi tonggak positif syiar Islam di Kota Solo itu.

Hal itu diungkapkan pengurus Pemuda Muhammadiyah Kota Solo dalam konferensi pers di Rumah Makan Mbok Marni, Jl. Raden Mas Said No. 49, Totogan, Mangkunegaran, Ketelan, Banjarsari, Solo, Jumat (9/2/2018) siang. Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Kota Solo Suyanto mengatakan Masjid Taman Sriwedari adalah masjid yang strategis karena ada di pinggir Jl. Slamet Riyadi.

Menurutnya, masjid itu bisa menjadi pusat strategis membina masyarakat yang islami. Mereka menilai tujuan pembangunan masjid itu meningkatkan ketakwaan, mewujudkan tatanan masyarakat yang agamis, dan mengedepankan akhlak karimah.

Baca:

Fungsi lain adalah masjid sebagai tempat beribadah salat juga tempat melakukan aktivitas sosial keagamaan, mendiskusika permasalahan umat dan bangsa. “Masjid juga bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kota Solo serta sarana pembangunan ukhuwah islamiah,” terangnya.

Alasan-alasan tersebut membuat Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Solo mendukung pembangunan masjid Sriwedari oleh Pemkot Solo. Bahkan, mereka mengklaim siap mengawal pembangunan itu.

“Beberapa pekan ini umat Islam Solo diramaikan persoalan pembangunan Masjid Taman Sriwedari. Kami bersama IMM berbeda dengan pihak yang lebih dulu menyatakan sikap [menolak pembangunan masjid di Taman Sriwedari],” kata dia.

Ditanya apakah Pemuda Muhammadiyah Solo sudah melakukan kajian hukum, sejarah, hingga fikih, Suyanto tidak menjawab secara tegas. Ia justru mengatakan sengketa hukum adalah ranah Pemkot dan pihak lain. Pemuda Muhammadiyah hanya mendukung program pembangunan masjid.

Sedangkan dalam aspek kajian kesejarahan, ia meyakini Pemkot sudah memiliki pemikiran yang baik. Bahkan, mereka justru berharap ahli waris legawa dengan mewakafkan tanah itu untuk membangun masjid. Terkait dalil fikih atau kajian hukum Islam, Suyanto tidak memberi penjelasan gamblang.

“Ini memang menjadi dinamisasi Sriwedari. Saya kira dari pemerintah punya pemikiran yang baik. Jadi substansinya adalah kami mendukung. Harapan kami ada proses legawa dari ahli waris untuk mewakafkan untuk umat Islam. Masjid itu harus terealisasi,” kata dia.

Pengurus Pemuda Muhammadiyah Solo, Cucu Suryanto, menambahkan dukungan Pemuda Muhammadiyah berkaca pada keberadaan masjid-masjid megah di sekitar Kota Solo seperti di Klaten dan Sukoharjo. Ia menyayangkan Kota Solo yang belum punya masjid megah meski menjadi barometer keislaman.

“Sangat disayangkan belum punya masjid yang dibanggakan,” kata dia.

Rombongan Pemuda Muhammadiyah hari itu juga menuju Balai Kota Solo untuk menyerahkan surat dukungan kepada Pemkot Solo.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…