Salah satu petani durian menjual hasil panennya di tepi jalan wilayah Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten, Jumat (9/2/2018). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Salah satu petani durian menjual hasil panennya di tepi jalan wilayah Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Klaten, Jumat (9/2/2018). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Sabtu, 10 Februari 2018 10:35 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

3 Tahun Menanti, Petani Jatinom Klaten Panen Durian sampai Melimpah

Para petani di Kecamatan Jatinom, Klaten, akhirnya bisa panen durian setelah tiga tahun menanti.

Solopos.com, KLATEN — Para petani di Kecamatan Jatinom, Klaten, akhirnya bisa menikmati panen durian hingga jumlahnya melimpah pada musim ini. Melimpahnya hasil panen tersebut sudah dinantikan petani lebih dari tiga tahun terakhir.

Pada musim panen kali ini, petani mampu memanen durian hingga tiga kali untuk satu pohon. Hal itu berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya sekali panen untuk satu musim. Salah satu sentra pertanian durian di Jatinom yang panen tahun ini ada di Desa Randulanang.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Randulanang Randu Mulyo, Haryanto, mengatakan faktor cuaca sangat mempengaruhi hasil panen durian selain faktor lainnya seperti perawatan pohon. Lebih dari tiga tahun terakhir, intensitas hujan cukup tinggi membuat pohon durian sulit berbunga. (Baca: 850 Durian Gratis di Festival Durian Randulanang Jatinom)

“Tiga sampai empat tahun kemarin itu hanya bisa satu kali panen. Itu pun hasil panennya tidak bagus, tidak sebanyak kali ini. Kalau panen kali ini bisa dua hingga tiga kali panen untuk satu pohon selama setahun. April 2017 itu sudah mulai panen kemudian Oktober 2017 dan terakhir panen pada Februari 2018,” kata Haryanto saat ditemui Solopos.com di kantor Desa Randulanang, Jumat (9/2/2018).

Satu pohon durian mampu menghasilkan 75 buah hingga 150 buah sekali panen. Sementara rata-rata petani di Randulanang memiliki minimal lima pohon durian di pekarangan mereka. Jenis durian yang ditanam beragam seperti durian lokal, montong, petruk, serta kumbokarnan.

“Ada yang punya 15 pohon dan ada yang punya 50 pohon. Kalau total luas lahan yang ditanami durian di Randulanang bisa mencapai lebih dari 25 hektare,” katanya.

Haryanto menjelaskan kebanyakan buah durian petani di wilayah itu ditebas dengan harga tebasan bisa mencapai Rp10 juta untuk satu pohon sekali panen. Sebagian hasil panen dijual masing-masing petani seperti bermunculannya warung-warung durian di sepanjang jalan di wilayah Randulanang.

“Hampir setiap hari penebas berdatangan ke Randulanang. Banyak pedagang yang berjualan di sepanjang jalan wilayah Randulanang,” urai dia.

Disinggung tips ketika membeli buah durian, Haryanto menyarankan untuk mencium aroma serta melihat tekstur kulit buah. “Kalau dari luar itu bisa dicium aromanya. Yang lebih wangi itu biasanya lebih matang,” ungkapnya.

Salah satu petani di Randulanang, Rukinem, 60, menuturkan sebagian hasil panen ia jual di tepi jalan wilayah Randulanang. “Hasil panen lebih banyak saat ini yang bisa berbuah hingga tiga kali dalam setahun. Biasanya ya hanya satu kali. Itu tergantung kondisi cuaca,” kata Rukinem yang berjualan dibantu kerabatnya Ngatemi, 42.

Harga jual durian tergantung ukuran buah. Kisaran harga Rp20.000/buah hingga Rp100.000/buah. Hasil panen melimpah terutama saat panen kedua pada Desember 2017-Januari 2018.

“Kalau jualan ramai itu pas libur Natal dan tahun baru lalu. Sehari bisa menjual 15-20 buah. Banyak yang berasal dari luar kota karena mengenal pusatnya durian itu salah satunya Randulanang,” katanya.

Petani lainnya di Desa Socokangsi, Kecamatan Jatinom, Tukiran, 32, mengatakan dari 50 pohon durian yang ditanam sebanyak 10 pohon berbuah pada musim panen kali ini. Ia membenarkan satu pohon durian bisa dipanen hingga tiga kali dengan hasil melimpah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Berbuahnya itu memang tiga kali. Namun, kualitas panen yang ketiga ini tidak bagus. Rasa durian anyep. Ya karena faktor curah hujan terutama di Januari itu. Kalau saya ya hitungannya masih merugi,” kata pria asal Dukuh Socokulon itu.

Socokangsi pernah dikenal dengan salah satu pohon durian yang berusia lebih dari 100 tahun. Hanya, pohon itu sudah ditebang oleh pemiliknya sekitar setahun lalu.

“Kalau anakan dari pohon-pohon itu orang tua saya punya. Buahnya itu besar-besar,” kata Tukiran.

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…