Bangku taman di Pedestrian Malioboro depan Gedung DPRD DIY menarik wisatawan untuk berswa foto di momen libur panjang Maulud Nabi, Senin (12/12/2016). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja) Bangku taman di Pedestrian Malioboro depan Gedung DPRD DIY menarik wisatawan untuk berswa foto di momen libur panjang Maulud Nabi, Senin (12/12/2016). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 9 Februari 2018 20:20 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Wawali Jogja Minta Hotel Perhatikan Warga Sekitar

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi meminta semua pengelola hotel di Jogja untuk merangkul warga sekitar

Solopos.com, JOGJA-Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi meminta semua pengelola hotel di Jogja untuk merangkul warga sekitar hotel supaya pergerakan ekonomi masyarakat di sekitar hotel juga berkembang.

“Hotel harus menjadi tempat display hasil produk UMKM dari kerajinan maupun kuliner,” kata Heroe, menanggapi tingginya kunjungan wisatawan, namun belum dirasakan oleh warga Jogja, di Balai Kota Jogja, Jumat (9/2/2018).

Selain jadi tempat pemasaran hasil UMKM, kata Heroe, hotel juga harus menjalin kerjasama dengan pengelola kampung wisata sekitar hotel untuk membuat paket wisata dan kegiatan bagi tamu-tamu hotel.

Ia menginginkan tamu hotel bisa diarahkan untuk berkegiatan di area ruang terbuka hijau (RTH) kampung dan di sepanjang bantaran sungai yang sudah tertata.

Heroe meyakini kegiatan tersebut bakal membawa dampak positif bagi pergerakan ekonomi masyarakat. Pihaknya sudah mempersiapkan program gandeng gendong yang melibatkan pemerintah, pengusaha, akademisi, komunitas, dan komunitas dalam mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan yang terjadi di Jogja.

Ia mengakui data kemiskinan masih cukup tinggi terutama di Jogja bagian selatan. Sementara di Jogja bagian utara sedikit lebih sejahtera, namun kesejahteraannya juga tidak merata atau ada ketimpangan.

Karena itu, ia sudah meminta semua organisasi pemerintah (OPD) terkait untuk mendata dengan lengkap terkait penyebab-penyebab kemiskinan yang terjadi agar mudah dalam pengentasannya.

Jika kemiskinan itu karena kurangnya lapangan kerja, maka program gandeng-gendong diupayakan untuk menggelar pelatihan-pelatihan, kemudian warga yang sudah dilatih ditempatkan di perusahaan-perusahaan di sekitar wilayah tersebut. “Kami minta OPD untuk memetakan potensi-potensi yang ada di wilayah,” ujar Heroe.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…