Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang Endang Pudjiwati. (JIBI/Solopos/Antara/Sumarwoto) Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang Endang Pudjiwati. (JIBI/Solopos/Antara/Sumarwoto)
Jumat, 9 Februari 2018 18:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

Viostin Ds dan Enzyplex Masih Beredar, BBPOM Semarang Desak Penarikan

BBPOM Semarang mendesak pihak distributor obat segera menarik Viostin Ds dari pasar Jateng.

Solopos.com, BANYUMAS — Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang, Kamis (8/2/2018), menyampaikan imbauan kepada distributor Viostin DS dan Enzyplex untuk segera menarik kedua produk suplemen kesehatan tersebut dari peredaran. Desakan itu disampaikan karena personel BBPOM Semarang masih menemukan produk mengandung DNA babi tersebut di toko-toko dan apotek di Jawa Tengah.

“Kami akan pantau terus karena kemarin masih ditemukan di toko-toko dan apotek,” kata Kepala BBPOM Semarang Endang Pudjiwati di sela-sela penertiban jamu ilegal yang mengandung bahan kimia di Desa Tunjung, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jateng, Kamis petang.

Ia mengatakan pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan produk-produk tersebut telah ditarik dari peredaran. Kendati waktu penarikan masih ada, dia mengatakan pihaknya akan mengambil dan mengamankan produk tersebut jika ditemukan dalam pantauan.

“Kami harapannya distributor semuanya memastikan bahwa tidak ada lagi Viostin DS maupun Enzyplex yang beredar karena sudah dibatalkan izin edarnya, jadi tidak boleh lagi beredar dan untuk memberikan ketenangan kepada masyarakat,” tegasnya.

Sebelumnya, melalui keterangan resminya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan berdasarkan hasil pengawasan melalui pengambilan contoh dan pengujian terhadap parameter DNA babi, ditemukan bahwa dua produk tersebut terbukti positif mengandung DNA babi.

Terkait dengan hal itu, Badan POM telah menginstruksikan PT Pharos Indonesia sebagai produsen Viostin DS dan PT Medifarma Laboratories sebagai produsen Enzyplex untuk menghentikan produksi dua produk tersebut dan menarik seluruh produk yang sudah tersebar di pasaran.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…