Direktur PT Aksara Solopos Bambang Natur Rahadi (dua dari kanan) berbincang dengan GM Solo Paragon Hotel&Residences Gerri Primacitra (tiga dari kiri) dan Hotel Manager The Wujil Resort&Conventions di Griya Solopos, Rabu (7/2/2018). (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/SOLOPOS) Direktur PT Aksara Solopos Bambang Natur Rahadi (dua dari kanan) berbincang dengan GM Solo Paragon Hotel&Residences Gerri Primacitra (tiga dari kiri) dan Hotel Manager The Wujil Resort&Conventions di Griya Solopos, Rabu (7/2/2018). (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/SOLOPOS)
Jumat, 9 Februari 2018 02:00 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/SOLOPOS Ekonomi Share :

The Wujil Semarang Tawarkan Keindahan Alam, Paragon Solo Andalkan Lifestyle

Hotel-hotel besutan Tauzia Hotel Management naikkan branding. 

Solopos.com, SOLO—Hotel-hotel besutan Tauzia Hotel Management terus menaikkan branding berdasarkan kekuatan segmen pasar masing-masing.

Di Solo, Tauzia Hotel Management mengelola Solo Paragon Hotel & Residences. Hotel ini tetap memperkuat karakternya sebagai hotel lifestyle, atau satu-satunya hotel di Jateng yang terintegrasi langsung dengan mal, yakni Solo Paragon Lifestyle.

Di Ungaran Semarang, Tauzia juga mengelola The Wujil Resort & Conventions. Bedanya, hotel ini mengandalkan keindahan alam yang ada di Desa Wujil, Kabupaten Semarang.

Hotel Manager The Wujil Resort&Conventions, Miyana, bersama General Manager Solo Paragon Hotel&Residences, Gerri Primacitra, berkesempatan berkunjung ke Solopos dan berbincang langsung dengan Direktur PT Aksara Solopos, Bambang Natur Rahadi, Rabu (7/2/2018). (baca: SOLO GREAT SALE 2018 : UKM Great Sale Digelar 1-4 Februari 2018 di Mal Paragon)

Mereka berbincang seputar perkembangan industri hotel di Solo dan Semarang termasuk tren pasar hotel saat ini. Miyana mengatakan pasar dari Kabupaten Semarang biasanya akan menjadikan Kota Semarang sebagai jujugan saat mereka membutuhkan fasilitas hotel.

Namun, kini Kabupaten Semarang sudah punya The Wujil. Hampir sama dengan hotel-hotel di Semarang, The Wujil juga menarik segmen pasar meeting bisnis dan industri. Segmen ini masih menguasai 70% pangsa tamu hotel.

“Kalau di Semarang, saat coffee break pemandangannya adalah gedung-gedung bertingkat, kalau di The Wujil tamu bisa menikmati keindahan alam, taman, pokoknya yang hijau-hijau,” kata Miyana.

Keunggulan ini, membuat hotel yang memiliki 140 kamar ini bisa mencapai angka okupansi 40% saat weekday.

“Kalau untuk weekend, kami lebih sering penuh, bahkan tamu harus pesan jauh-jauh hari. Keunggulan alam di sekitar hotel inilah yang jadi magnet, terutama bagi tamu yang ingin berlibur di akhir pekan,” imbuhnya.

Sementara Solo, Gerri mengatakan industri hotel masih harus bekerja keras karena masih sangat tergantung segmen meeting incentive conventions and exhibitions (MICE).

“Hotel di Solo masih sangat tergantung dengan MICE. Kebetulan segmen pasar ini paling banyak membutuhkan fasilitas hotel bintang empat seperti Paragon. Sedangkan untuk pasar tourism kami menganggap Solo masih sangat kurang,” kata Gerri.

Bahkan untuk tingkat keterisian di akhir pekan, Gerri menilai bahwa Solo masih sebagai tempat persinggahan. Terlebih Solo dikelilingi kota-kota yang sudah lebih dulu maju, seperti Semarang, Jogja, Surabaya, bahkan mobilitas Jakarta-Surabaya sering memilih Solo sebagai tempat singgah.

“Mereka hanya menginap semalam, misalnya Sabtu malam, Minggu pagi mereka sudah melanjutkan perjalanan. Hotel yang memiliki 244 kamar ini mampu mencapai angka okupansi 60,05% pada tahun 2017. Lebih baik dibandingkan tahun 2016,” jelasnya.

lowongan pekerjaan
PT. Astra International Tbk-isuzu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…