Ilustrasi Kartu Tani. (JIBI/Solopos/Antara/Seno Ilustrasi Kartu Tani. (JIBI/Solopos/Antara/Seno)
Jumat, 9 Februari 2018 13:55 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Pembagian Kartu Tani di Gunungkidul Tidak Tepat Sasaran

Padahal kartu itu diberikan tujuannya agar petani dimudahkan untuk mendapatkan benih dan pupuk bersubsidi

Solopos.com, GUNUNGKIDUL-Pembagian kartu tani di Gunungkidul tidak tepat sasaran. Sejumlah orang yang bukan petani justru mendapatkan kartu tersebut.

Padahal kartu itu diberikan tujuannya agar petani dimudahkan untuk mendapatkan benih dan pupuk bersubsidi.
Sedikitnya 80.000 kartu tani sudah dibagikan ke masyarakat di Gunungkidul. Namun dalam penyerahan itu ditemukan pembagian kartu yang tidak tepat sasaran, lantaran warga yang bukan petani ikut mendapatkan kartu tersebut.

Pembagian kartu tani yang diduga tidak tepat sasaran terdapat di Dusun Nglorog, Desa Kedungpoh, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul. Di dusun ini terdapat 120 kepala keluarga (KK) dan kesemuanya mendapatkan kartu tani, tanpa melihat status pekerjaan yang dimiliki warga.

Kepala Dusun Nglorog, Kuncoro tidak menampik adanya pembagian kartu tani yang salah sasaran. Menurut dia, tidak semua penerima kartu merupakan petani karena ada yang berkerja sebagai pemilik warung makan. Selain itu, penerima kartu ada juga yang merangkap pekerjaan seperti petani dan buruh bangunan atau pekerjaan lainnya.

“Kalau jumlah yang tidak tepat sasaran kurang hafal. Yang jelas ada seorang warga yang bekerja sebagai pedagang, tapi mendapatkan kartu tani,” kata Kuncoro kepada Solopos.com, Rabu (7/2/2018).

Menurut dia, adanya pembagian kartu tani yang tidak tepat sasaran bisa dilihat dari seluruh warga di Dusun Nglorog yang berjumlah 120 KK semua mendapatan kartu itu. Padahal lanjut, Kuncoro tidak semua warga bermata pencaharian sebagai petani. “Kalau lebih jelasnya bisa tanya ke ketua kelompok tani, Pak Sumadi. Yang jelas, pemberian kartu tani yang tak tepat sasaran ada karena pemilik warung makan yang menerima kartu itu masih saudara saya,” ujarnya.

Menurut dia, ada beberapa hal yang mendasari seluruh warga di Dusun Nglorog mendapatkan kartu tani. Pertama, saat pengajuan pengurus lebih mengedepankan asas pembagian yang merata sehingga tidak menimbulkan kecemburuan di masyarakat. Alasan lainnya, tidak lepas dari partisipasi seluruh masyarakat dalam mendirikan kelompok tani.”Saat didirikan warga diminta iuran sebagai modal awal. Jadi sebagai gantinya seluruh warga dimasukkan dalam kelompok,” ujarnya.

Sayangnya, saat akan melakukan klarifikasi ke Ketua Kelompok Tani Dusun Nglorog, Sumadi belum bisa. Ini lantaran, saat ditemui di rumahnya, yang bersangkutan sedang ada urusan di luar.

Kepala Desa Bendung, Kecamatan Semin Didik Rubiyanto mengakui proses pembagian kartu tani di Desa Bendung sudah dilaksanakan. Namun demikian, ia tidak menampik masih ada petani yang belum mendapatkan karena masih dalam proses pengurusan. “Sudah mulai didistribusikan,” katanya.

Disinggung mengenai pembagian kartu yang kurang tepat sasaran, Didik mengaku belum menemukan hal tersebut. Namun, di dalam prosesnya, ia tidak menampik ada warga yang tidak murni petani mendapatkan kartu tani. “Kartu itu ada yang diberikan kepada petani yang juga memiliki warung kecil. Tapi unit usaha yang dimiliki masih kecil sehingga dirasa masih pantas mendapatkan bantuan,” kata Didik.

Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mendata ada 128.858 warga yang berhak mendapatkan kartu tani. Hanya saja, dari jumlah tersebut belum semua petani mendapatkan kartu. Hingga saat ini sudah ada 80.000 penerima yang memperoleh kartu tani, 14.000 kartu masih dalam proses pencetakan. Sedangkan sisanya 34.858, calon penerima manfaat masih menunggu proses dari Bank Rakyat Indonesia.

Kepala Bidang Penyuluhan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Oneng Windu Wardhana mengatakan, kartu tani merupakan program dari Pemerintah Pusat yang bekerja sama dengan CSR bank milik BUMN yang dikomandoi oleh BRI. Tujuan penerbitan kartu ini adalah untuk membantu petani dalam menebus pupuk bersubsidi.

Menurut dia, penerbitan kartu tani sudah dimulai sejak triwulan keempat 2017 lalu. Namun hingga sekarang kartu tersebut belum bisa digunakan karena pelaksanaannya masih menunggu proses uji coba di Kulonprogo yang saat ini masih berlangsung.
“Kartunya sudah mulai didistribusikan, tapi untuk sekarang belum bisa digunakan. Kemungkinan pelaksanaan menunggu hasil evaluasi dari uji coba di Kulongprogo,” kata Windu.

Diungkapkannya, permasalahan kartu tani tidak hanya menyangkut masalah belum difungsikannya kartu tersebut. Ini lantaran, kata Windu, masih ada puluhan ribu petani yang belum mendapatkan kartu itu.

Adapun persyaratan utama yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kartu ini adalah memiliki KTP dengan pekerjaan petani, memiliki luas lahan pertanian serta tergabung dalam kelompok tani. “Ketiga syarat harut terpenuhi karena ini menyangkut pada kuota pupuk bersubsidi bagi setiap petani,” jelasnya.

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…