Areal parkir dua lantai (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)
Jumat, 9 Februari 2018 10:40 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Mulai 2019 Bus Wisata Parkir di Luar Kota Jogja

Sejumlah kantong parkir sedang disiapkan.

Solopos.com, JOGJA–Pemerintah Daerah (Pemda) DIY akan mulai mengoperasikan parkir bus di luar wilayah perkotaan paling cepat pada 2019. Apabila kebijakan itu sudah berjalan, maka keberadaan Trans Jogja akan dioptimalkan dengan menjadikan moda transportasi itu sebagai shuttle bus.

Kepala Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan DIY Hari Agus Triyono mengutarakan, pihaknya saat ini sedang mengkaji lokasi yang tepat untuk dijadikan kantong parkir bus pariwisata. Kajian perlu dilakukan untuk mengetahui lahan-lahan mana saja yang berpotensi digunakan sebagai tempat parkir.

Dari hasil kajian, sambung Agus, ada beberapa tempat yang sudah dibidik seperti Terminal Jombor, tempat parkir Bandara Internasional Adisutjipto dan sebuah lahan di Ambarketawang. Bahkan, untuk lokasi yang disebutkan terakhir sudah dibuat tempat parkir.

Namun, untuk parkir di Ambarketawang kapasitasnya tidak terlalu banyak, maksimal hanya 10 bus. Agus mengatakan kemungkinan kantong-kantong parkir bus baru bisa dioperasikan pada 2019. “Paling cepat 2019 atau 2020. Soalnya kan bandara baru pindah pada April 2019. Untuk lokasi di daerah selatan juga masih dicari terus, karena penumpang bus tidak hanya datang dari utara dan timur,” ucapnya melalui sambungan telepon, Kamis (8/2/2018).

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kota Jogja menyatakan kepadatan lalu lintas di Kota Pelajar adalah karena banyaknya kendaraan besar yang melintas di jalanan, seperti bus pariwisata dan kendaraan barang. Solusi yang perlu diambil salah satunya adalah dengan menyediakan kantong parkir untuk bus pariwisata. Kemudian disiapkan kendaraan dengan dimensi lebih kecil untuk mengantarkan turis menuju objek wisata.

Saat tempat parkir sudah bisa digunakan, sambung Agus, Pemda DIY akan menjadikan Trans Jogja sebagai shuttle bus. Ia menyatakan hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mengoptimalkan angkutan umum yang dilaunching pada 2008 silam. Selama ini Trans Jogja dianggap kurang optimal, padahal sudah dibiayai sedemikian rupa oleh pemerintah.

Dengan dijadikannya Trans Jogja sebagai shuttle bus, maka keberadaanya diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat dan wisatawan. Hanya saja, kata Agus, skema pemanfaatannya masih terus dipikirkan supaya nantinya wisatawan tidak merasa dibebani dengan tambahan biaya.

“Misalnya, ada kartu khusus, tapi enggak berbayar. Nanti penumpang akan kami kasi kartu saat naik dan dikembalikan saat sudah balik. Itu salah satu opsi saja karena Trans Jogja sudah diakomodasi Pemda [DIY]. Untuk rencana itu masih perlu rembukan dengan pihak terkait,” ujar Agus.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…