Warga Dusun Belang RT 003/RW 013, Temboro, Karangtengah, Wonogiri menunjukkan kerusakan rumah akibat tanah bergerak, Kamis (8/2/2018). (Istimewa/BPBD Wonogiri) Warga Dusun Belang RT 003/RW 013, Temboro, Karangtengah, Wonogiri menunjukkan kerusakan rumah akibat tanah bergerak, Kamis (8/2/2018). (Istimewa/BPBD Wonogiri)
Jumat, 9 Februari 2018 06:35 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

LONGSOR WONOGIRI
Belasan Warga Karangtengah Mengungsi karena Tanah Ambles dan Tembok Rumah Retak

Sedikitnya 13 warga Karangtengah, Wonogiri, harus mengungsi karena tanah mereka ambles dan tembok rumah retak.

Solopos.com, WONOGIRI — Wilayah sangat rawan tanah longsor di Wonogiri bertambah. Selain di Purwantoro dan Kismantoro, wilayah sangat rawan longsor baru ditemukan di Karangtengah.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Kamis (8/2/2018), area sangat rawan longsor ditemukan di area permukiman di Dusun Belang RT 003/RW 013, Temboro. Di lahan kawasan miring itu ditemukan rekahan akibat pergerakan tanah. Tanah bergerak turun mengakibatkan satu unit rumah berstruktur beton yang dihuni tiga orang rusak berat dan dua unit rumah lainnya terancam.

Tembok rumah yang terdampak retak hingga dapat dimasuki dua hingga tiga ruas jari tangan orang dewasa. Lantai dan fondasi rumah mengalami kondisi yang sama namun lebih parah. Lebarnya lebih besar. (Baca: Rumah Terancam Longsor, 78 Keluarga Kismantoro dan Purwantoro Mengungsi)

Tidak ada korban luka maupun jiwa dalam peristiwa itu. Di tempat lain, sejumlah bagian jalan dusun ambles. Bahkan ada bagian yang ambles hingga sedalam 175 cm.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penangggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, menyampaikan 13 warga penghuni tiga unit rumah yang terdampak sudah mengungsi. Mereka keluarga Suryanto dengan anggota tiga orang, keluarga Suparno lima orang, dan keluarga Warsono lima orang.

Menurut Bambang, tanah retak kali pertama diketahui warga, Minggu (4/2/2018) lalu. Rekahan tanah dari hari ke hari semakin lebar karena setiap hari wilayah sekitar hujan. Air yang masuk ke lubang membuat tekstur tanah menjadi lembek.

Pada sisi lain beban tanah sangat berat. Akibatnya, tanah bergerak turun. Puncaknya, rekahan meluas hingga ke permukiman warga, Rabu (7/2/2018).

“Di salah satu lahan pekarangan warga ada aliran air yang bercampur lumpur. Ini indikasi kuat bahwa air mengalir melalui rekahan tanah. Langkah yang bisa diambil memperlambat pergerakan tanah, yakni dengan menutup rekahan supaya air tak dapat masuk. Itu sudah dilakukan,” kata Bambang.

Kades Temboro, Sriyanto, menginformasikan keluarga Suryanto mengungsi karena rumahnya sudah miring. Sedangkan dua keluarga lainnya mengungsi saat terjadi hujan lebat. Rumah dua keluarga itu tak rusak, tetapi area sekitar rumah sudah ambles.

Dia selalu mengingatkan warga agar selalu waspada dan siaga agar bisa menyelamatkan diri jika terjadi hal tak diinginkan. Sementara itu, pada hari yang sama di Desa Kudi, Batuwarno, terjadi longsor.

Dapur rumah milik Lagino, 65, runtuh karena lahan tempat berdirinya bangunan longsor. Panjang tanah yang longsor mencapai 3 meter, lebar 2,5 meter, tinggi 2 meter. Tidak ada korban luka maupun jiwa dalam peristiwa itu.

Saat peristiwa terjadi penghuni rumah tidak sedang di dapur. Personel BPBD, TNI, polisi, warga, dan relawan bergotong royong menangani. Sebelumnya, tanah retak ditemukan Dusun Galih, Sumber, Purwantoro, dan Dusun Joho, Gedawung, Kismantoro, pekan lalu. Ratusan orang mengungsi karena ancaman tanah longsor kian besar.

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Urgensi Mendesain Ulang Prolegnas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/2/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com.  Solopos.com, SOLO–Sidang paripurna DPR di ujung 2017 lalu dibuka dengan laporan 50 rancangan undang-undang (RUU)…