Inem jalan-jalan ini adalah Made Dyah Agustina, dosen sekaligus seniman tari yang ingin melakukan aksi sosial dengan cara berbeda. (Harian Jogja/Desi Suryanto). Inem jalan-jalan ini adalah Made Dyah Agustina, dosen sekaligus seniman tari yang ingin melakukan aksi sosial dengan cara berbeda. (Harian Jogja/Desi Suryanto).
Jumat, 9 Februari 2018 16:55 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Lewat Edan-Edanan, Inem Sampaikan Pesan Kearifan

Aksinya juga sarat akan keprihatinan

Solopos.com, JOGJA-Aksi seniman di Malioboro beberapa waktu lalu sempat viral di media sosial. Berdandan edan-edanan, seniman itu sempat diusir dari Malioboro. Siapa dia dan apa yang dilakukannya?

Rabu (24/1/2018) siang itu, pukul 13.12 WIB, Inem berdandan. Ia duduk bersila di depan kaca di teras rumahnya sembari menyanding kotak make up. Keringat yang membasahi wajahnya langsung ditumpuk alas bedak warna putih. Eye shadow warna hijau perlahan mulai ia usapkan di kelopak mata, diikuti goresan hitam pada pangkal bulu mata, atas alis, dan tepi mulutnya. Kemudian warna merah pekat juga ia bubuhkan di kedua pipinya. Sisi kanan dibentuk bulatan dan sisi kiri dibentuk Bendera Indonesia.

Tak sampai setengah jam, riasannya selesai. Inem mulai beranjak dan masuk ke kamarnya. Ia keluar sudah dengan dandanan khas penari edan-edanan. Rambutnya dikepang, kebayanya hitam, celana hitamnya juga ditumpuk dengan jarit setinggi lutut. Tangan kirinya menggenggam kipas bulat sementara tangan kanannya mengempit tas polkadot bertuliskan Inem Jalan-Jalan, Mau Foto Boleh Tapi Follow IG Inem ya @inemjogja.

Di sela-sela merapikan penampilannya, anak sulung Inem pulang dari bermain. “Orang gila,” seru anak empat tahun itu seusai melihat ibunya.

Inem pun tak peduli dan terus membenahi penampilannya. “Yes, dapet,” kata Inem sembari memegang ponselnya.
Tak berselang lama, ojek daring berjaket hijau berhenti di depan rumahnya di kompleks Perumahan Mutiara Tamanan, Banguntapan, Bantul. Si tukang ojek yang sempat kaget, akhirnya tertawa. Inem pun langsung membonceng sambil melambaikan tangannya pada si bungsu yang masih dalam gendongan bapak mertuanya. “Mama berangkat dulu ya,” pamitnya.

Tukang ojek melaju kencang membawa Si Inem membelah Jogja. Pengendara lain yang melihat penampilannya tertawa cekikikan, bahkan seorang gadis kecil yang berhenti di lampu merah dibuatnya melongo sedikit takut.
Perjalanan yang ditempuh sekitar 20 menit itu berakhir di Alun-Alun Utara. Inem turun dan mulai berjalan. Para pekerja yang sedang memasang patung di area Altar pun sempat dihampirinya. Ia menyapa dengan sopan dan sedikit bercerita bahwa ia datang untuk jalan-jalan.

Tak lama di situ, Inem kembali berjalan ke utara, melalui para pedagang buku yang ada di sisi barat Kantor Pos Besar Jogja. Ia kembali menyapa para penjualnya. “Mangga, Bu,” katanya.

Inem sempat berhenti meladeni si penjual yang mengabadikan gambar melalui ponsel. Inem berjalan lagi dan menyusuri trotoar Museum Benteng Vredeburg. Matanya tertuju pada penjual mainan anak yang duduk lesehan menjajakan dagangannya. “Niki pinten [ini berapa harganya],” tanya Inem sambil memainkan dolanan dari bambu itu dengan diputar-putar.

Sejumlah uang ia berikan dan tanpa menunggu uang kembalian, Inem berjalan lagi. Saat langkah kakinya sampai di Pasar Beringharjo, ia juga berbelanja tisu, permen, jajanan kue, dan rambutan, tanpa meminta uang kembalian. Tak hanya itu, perjalanan Inem di sore yang mendung itu juga menjadi berkat bagi buruh gendong dan seorang pengamen buta. Kendati awalnya mereka berpikiran sedang bertemu dengan “orang kentir” tetapi akhirnya mereka menerima lembaran uang dari tangan Inem.

Ya, Inem bukanlah pelayan seksi yang tenar di televisi. Inem jalan-jalan ini adalah Made Dyah Agustina, dosen sekaligus seniman tari yang ingin melakukan aksi sosial dengan cara berbeda. Dulu, hidupnya pas-pasan. Kehidupannya bersumber dari penghasilan orang tua yang berjualan balon di Altar. “Saat itu, saya ingin meningkatkan derajat keluarga saya. Lalu saya menari. Mimpi saya saat itu, jika saya jadi orang mampu maka saya akan berbuat sesuatu,” ungkap perempuan 31 tahun ini.

Lenggak-lenggok tubuh dan kelentikan jari-jemarinya dalam mengikuti irama musik tarian berhasil mengantarkannya sebagai salah satu penari di Tembi Dance Company pada 2009. Made banyak berkecimpung di situ hingga akhirnya ia dibiayai S1 Pendidikan Seni Tari di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan melanjutkan di S2 Manajemen Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Niatnya untuk menjadi pengepul seniman cilik mulai terwujud saat ia berhasil memelopori berdirinya Sanggar Tari anak Tembi pada 2013. Peserta didik yang awalnya hanya 10 anak, sekarang berkembang menjadi 110 orang. Ia kemudian mengembangkan lagi sampai lima sanggar tari dengan total peserta didik sampai 300 anak. Salah satu sanggar ada di rumahnya sendiri yaitu Sanggar Artha Dance yang lebih fokus untuk tarian kontemporer. Anak didiknya sering tampil di acara televisi, bahkan Made sendiri pernah tampil di Kick Andy, sebuah acara di televisi swasta.

Pundi-pundi rupiah semakin mengalir. Dosen PGSD Seni Tari di UNY ini ingat nazarnya saat itu untuk berbuat sesuatu. Hal itu pun ia wujudkan dengan berbagi rezeki kepada pedagang dan kaum tak mampu di kawasan Malioboro, Beringharjo, Tugu Pal Putih, Sunday Morning UGM, dan Alun-Alun Kidul dengan dandanan ala seniman edan-edanan.

Aksinya itu selalu dilakukan setiap Rabu dan Minggu, dan sampai 8 Februari ini ia sudah menjalankan aksi yang ke-5. Pada aksi pertamanya, ia sempat diusir oleh preman tetapi akhirnya mendapat perlindungan dan dukungan dari Aliansi Jogja Sehati.

Banyak nilai yang ingin ia sampaikan dari aksinya. Nilai berbagi, diwujudkan dengan membeli dagangan tanpa meminta uang kembalian. Nilai sopan santun, diwujudkan dengan bertegur sapa, membungkukkan badan di depan orang yang lebih tua, dan mengucapkan terima kasih pada pengguna jalan yang telah memberi kesempatan untuk menyeberang. Nilai kearifan lokal, ditunjukkan dengan pakaian kebaya yang ia kenakan.

Namun aksinya juga sarat akan keprihatinan. Ia miris. Jogja yang istimewa, tetapi tidak istimewa bagi pelaku seninya. “Saya yang kemampuan pas-pasan bisa dibayar Rp15 juta-Rp20 juta tapi guru saya yang lebih bagus hanya Rp500.000. Masyarakat masih memandang seni itu rendah. Bayar tari edan-edanan Rp500.000 saja sudah merasa mahal,” katanya sambil geleng-geleng.

Maka berangkat dari aksinya itu, Made ingin menunjukkan bahwa pelaku seni di Jogja memiliki karya yang luar biasa. Ia mampu berbuat baik dan bisa memberi warna untuk wajah kesenian dan kebudayaan daerah. Seniman bukan hanya penghibur tetapi juga aset daerah yang perlu dijaga.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…