Ilustrasi (mcna.com.au) Ilustrasi (mcna.com.au)
Jumat, 9 Februari 2018 06:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Pendidikan Share :

Keluarga Harmonis Cegah Kenakalan Remaja

Anak sebagai pelaku sering kali kurang mendapatkan perhatian dari orang tua

Solopos.com, JOGJA-Kenakalan remaja di wilayah DIY terjadi semakin beragam. Pendidikan keluarga dinilai memiliki peran penting dalam menangani persoalan tersebut.

Sebuah seminar sehari sekaligus pendampingan terkait fundamental pendidikan anak digelar oleh Smart Parent Institute (SPI) Jogja dengan menyasar orang tua dan anak sebagai peserta. Kegiatan itu juga akan dihadiri para orang tua dan anak dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia itu digelar di Hotel Jambuluwuk, Jogja, Sabtu (10/2/2018).

Ketua Panitia Seminar Difa Prasetya menyatakan keprihatiannya terkait kenakalan remaja yang terjadi wilayah DIY. Bahkan akhir-akhir ini, DIY yang seharusnya menjadi barometer keamanan juga semakin diuji dengan keberadaan gerombolan remaja atau lazim disebut klithih yang melakukan aksi kekerasan jalanan. Anak sebagai pelaku sering kali kurang mendapatkan perhatian dari orang tua atau akibat kurang harmonis.

“Berdasarkan data Polda DIY saja, aksi klithih yang dilakukan anak remaja selama 2017 itu tercatat 43 kasus, ini sangat memprihatinkan , kami perlu merespons itu,” terangnya, Kamis (8/2/2018).

Selain kasus itu, kata dia, remaja sendiri masih harus menghadapi kasus narkoba yang secara nasional sekitar 60% remaja justru pengguna narkoba yang didominasi sebagai percandu sekitar 48%. Di era perkembangan teknologi saat ini, orang tua makin harus ekstra dalam mendidik anak.

Hal ini mengingat, gangguan di luar keluarga makin banyak seiring terbukanya informasi, seperti anak kecanduan game, gadget hingga kebiasaan membuka medsos yang kadang dapat memicu emosi anak. Berawal dari keprihatinan itulah pihaknya menggelar seminar sekaligus pendampingan bagi orang tua anak tersebut.

“Mengatasi kenakalan remaja tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau aparat penegak hukum saja, tetapi juga perlu keterlibatan masyarakat. Sehingga kami memberikan materi sekaligus pendampingan meski tidak secara langsung terhadap orang tua terutama membantu mencari solusi mencegah kenakalan remaja,” terangnya.

Ia menambahkan, dalam kegiatan itu pihaknya memberikan materi dalam rangka membangun hubungan yang harmonis antaranggota keluarga, baik suami dengan istri, maupun orang tua dengan anak. Dengan keharmonisan itu orang tua menjadi satu visi dalam mendidik anak sehingga tidak terjerumus pada tindakan kenakalan. Karena faktanya sering terlihat orang tua mengalami kesuksesan dalam hal karier, tetapi justru anak tidak diberikan perhatian dengan baik akibatnya melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat seperti aksi klithih.

“Maka kami merasa penting bahwa untuk menuju tujuan mendidik anak, fundamental di keluarga ini harus dibangun lebih dahulu. Karena kadang ada keluarga yang sepertinya harmonis tetapi tidak, karena mungkin dipisahkan oleh karena pekerjaan, itu dampaknya pasti ke anak,” urai dia.

Panitia lainnya, Rasdha Tajjudin menambahkan, peserta workshop tersebut orang tua dengan mengajak anak. Namun, mereka tidak dalam satu ruangan, karena pihaknya menyediakan tempat khusus bagi anak sekaligus diberikan pendampingan selama orang tua mengikuti workshop.

Belum banyak kegiatan ilmiah yang menghadirkan peserta orang tua dan anak. Pihaknya memastikan sekitar 200 peserta dengan rincian 80% membawa anak dan anggota keluarga yang telah menyatakan akan hadir, mereka tidak hanya dari Jogja, tetapi juga kota lain seperti Palembang, Bengkulu, Makassar, Bali, Samarinda, hingga Balikpapan.

“Ini respons dari luar Jogja sangat banyak, mereka memandang betapa pentingnya pendidikan keluarga. Dalam seminar itu akan dibahas pula bagaimana mengungkap rahasia meningkatkan potensi anak untuk bisa menjadi pemimpin di masa mendatang,” ungkap pria yang juga Ketua Komunitas Tanpa Riba ini.

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…