Kendaraan terjebak di kerumunan pengunjung kawasan Pasar Gede yang dihiasi lampu lampion Tahun Baru Imlek 2018, Kamis (8/2/2018) malam. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos) Kendaraan terjebak di kerumunan pengunjung kawasan Pasar Gede yang dihiasi lampu lampion Tahun Baru Imlek 2018, Kamis (8/2/2018) malam. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)
Jumat, 9 Februari 2018 00:35 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

IMLEK 2018
Hujan Pun Diterabas demi Foto Berlatar Lampion di Pasar Gede Solo

Warga semakin banyak yang mengunjungi kawasan Pasar Gede Solo di malam hari untuk menikmati lampion Tahun Baru Imlek 2018.

Solopos.com, SOLO — Hujan tak menyurutkan minat masyarakat memadati kawasan Pasar Gede, Solo, Kamis (8/2/2018) pukul 18.20 WIB. Mereka rela basah-basahan demi bisa berfoto dengan latar belakang lampion menyala.

Beberapa pengunjung bahkan sengaja datang dari jauh. Salah satunya Yohanna Fransisca, 60, yang datang dari Kota Semarang. Dia sengaja datang ke Solo guna bisa menikmati suasana kawasan Pasar Gede dan Jl. Jenderal Sudirman yang dipenuhi lampion khas perayaan Tahun Baru Imlek.

Demi mendapatkan foto bagus, perempuan lanjut usia (lansia) tersebut bahkan sesekali nekat melepas payung hingga terpapar air hujan. Yohanna bersemangat membuat foto bagus untuk bisa dipamerkan kepada keluarga di Semarang.

Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan saat berada di Solo. Hal itu dia lakukan juga untuk mencari kepuasan batin karena turut merayakan Tahun Baru Imlek. Namun, pada kesempatan ini, perempuan keturunan Tionghoa itu agak kecewa lantaran tidak semua lampu lampion dalam kondisi menyala.

Yohanna juga mempertanyakan kenapa tidak ada lampion berbentuk shio yang terpasang di Jl. Jenderal Sudirman pada Kamis ini. Dia menyesalkan hal itu. Yohanna kecewa karena hari ini adalah hari terakhirnya di Solo.

Baca:

Nyala Lampu Lampion Tahun Baru Imlek di Pasar Gede Solo Diuji Coba, Begini Suasananya

Jalan Depan Pasar Gede Solo Bisa Ditutup Mendadak Demi Hal Ini

Dengan begitu, dia terpaksa memupus harapannya untuk bisa berfoto dengan latar belakang lampion berbentuk shio. “Sayang sekali belum ada lampion shio. Kenapa ya? Tahun lalu padahal ada,” kata Yohanna yang datang ke Pasar Gede bersama kakaknya, Jenny Wijayanti, 66, Kamis.

Namun, kekecewaan Yohanna tersebut sedikit terobati dengan kehadiran beberapa orang yang mengenakan busana cheongsam dan juga busana ala noni-noni Belanda. Mereka merupakan masyarakat yang menyedian jasa foto bersama.

Dengan membayar seikhlasnya, Yohanna maupun para pengunjung kawasan Pasar Gede lainnya bisa mengajak foro bersama mereka. Selain karakter perempuan Tionghoa dan Belanda, ada juga penyedia jasa foto bersama yang hadir dengan mengenakan kostum hantu khas Indonesia, seperi pocong dan kuntilanak. Mereka berpose di Tugu Jam.

Semakin malam, kondisi kawasan Pasar Gede kian ramai. Mereka tidak lain datang guna menikmati suasana kawasan Pasar Gede yang penuh lampion. Keberadaan ratusan orang di kawasan Pasar Gede membuat arus lalu lintas tersendat.

Beberapa pengunjung tampak nekat berfoto di badan jalan Jembatan Pasar Gede maupun Jl. Urip Sumoharjo yang dipasangi lampion. Kemeriahan Kawasan Pasar Gede semakin terasa dengan kehadiran PKL yang memadati tepi jalan dan bantaran Kali Pepe. Mereka menawarkan makanan kepada pengunjung yang ingin berfoto dengan latar belakang lampion.

Salah seorang warga Boyolali, Glendoh, 31, juga tak mau ketinggalan menikmati suasana kawasan Pasar Gede yang dihiasi lampion menyambut Tahun Baru Imlek 2018. Dia tidak pernah menemukan hal itu di Boyolali.

Glendoh sengaja datang ke Pasar Gede agar bisa berfoto dengan latar belakang lampu lampion. Dia berniat mengunggah foto-foto di kawasan Pasar Gede tersebut di media sosial seperti Instagram, Facebook, Whatsapp hingga Blackberry Messenger.

Hal itu dia lakukan demi eksistensi. Glendoh tidak mau kalah dari beberapa temannya yang sudah lebih dulu berfoto dengan latar belakang lampion di kawasan Pasar Gede. “Saya foto-foto. Bagus-bagus hasilnya. Nanti saya upload di media sosial biar sama kaya yang lain,” ujar Glendoh sambil menunjukkan foto kepada Solopos.com di gawainya, Kamis.

Glendoh menceritakan pengalaman cukup mendebarkan ketika mengambil foto kekasihnya, Nanda, 23, pada Kamis sekitar pukul 18.45 WIB. Saat dia sedang fokus memotret Nanda di Tugu Jam, tiba-tiba dari arah belakang ada mobil yang membunyikan klakson beberapa kali. Dia kaget.

Glendoh mengakui dirinya saat itu mengganggu arus lalu lintas. Dia mengusulkan kepada Pemkot Solo agar kawasan Pasar Gede lebih baik dibuat steril dari kendaraan setiap malam hari hingga berakhir masa perayaan Tahun Baru Imlek.

Seorang warga Cemani, Sukoharjo, Imelda Harisya Candra, 18, juga menikmati suasana Imlek di kawasan Pasar Gede. Dia sengaja datang ke Solo bersama teman-temannya untuk mendapatkan kesempatan berfoto dengan latar belakang lampion.

Imelda akan mengunggah foto-fotonya di kawasan Pasar Gede tersebut di media sosial. Dia merasa puas jika sudah mengunggah foto di akun media sosial. Imelda menyampaikan rencana akan mendatangi kawasan Pasar Gede akhir pekan ini. Hal itu dia lakukan dengan harapan sudah ada lampion berbentuk shio yang bisa digunakan untuk latar belakang foto.

Sementara itu, Kasi Pembinaan PKL Dinas Perdagangan (Disdag) Solo, Aminto, menyebut ada puluhan PKL yang memadati kawasan Pasar Gede saat lampion mulai dinyalakan pada Selasa (6/2/2018) lalu. Petugas Disdag mendatangi kawasan Pasar Gede untuk memastikan PKL tidak berjualan di empat lokasi yang berpotensi menganggu arus lalu lintas, yakni Jembatan Pasar Gede, segitiga Palem, depan Pasar Gede, dan depan Klenteng.

Dia menyebut personel Disdag bersama personel gabungan dari Dishub dan Satpol PP. Petugas Dishub mengawasi arus lalu lintas dan parkir kendaraan pengunjung. Sedangkan Satpol PP bekerja sama dengan Disdag mengatur PKL. Sementara itu, berdasarkan keterangan Panitia Bersama Imlek 2018, lampion shio bakal dipasang menyusul dalam waktu dekat ini.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…