Dua anggota komunitas Seni Karakter Jakarta berkostum hantu untuk memeriahkan Solo Imlek Festival 2018, di Pasar Gede, Selasa (6/2/2018). Dua anggota komunitas Seni Karakter Jakarta berkostum hantu untuk memeriahkan Solo Imlek Festival 2018, di Pasar Gede, Selasa (6/2/2018).
Jumat, 9 Februari 2018 21:45 WIB Chelin Indra Sushmita/JIBI/Solopos.com Solo Share :

Hiii, Ada Hantu Gentayangan di Festival Lampion Pasar Gede Solo

Ada hantu jadi-jadian bergentayangan di lampion Pasar Gede.

Solopos.com, SOLO – Apa yang terlintas di benak Anda ketika melihat hantu seperti pocong, kuntilanak, serta zombi? Apakah Anda akan lari ketakutan melihat makhluk ini? Jika iya, Anda harus berhati-hati ketika berkunjung ke kawasan Pasar Gede Solo saat hendak melihat lampion. Pasalnya, makhluk menyeramkan itu bergentayangan di sana.

Tapi, makluk menyeramkan itu bukanlah hantu sungguhan yang ingin menakuti pengunjung. Malahan, makhluk menyeramkan ini menjadi buruan para penghobi foto. Mereka adalah penggiat komunitas Seni Karakter Solo dan Jakarta yang turut memeriahkan gelaran Solo Imlek Festival 2018 mengenakan kostum hantu.

Selain hantu, ada pula anggota komunitas yang mengenakan kostum unik ala Noni Belanda dan Putri China. Mereka memangkal di kawasan Pasar Gede setiap hari untuk menghibur pengunjung. mereka dengan senang hati menerima ajakan pengunjung untuk berfoto bersama.

“Jadi, ini kami dari komunitas Seni Karakter Solo berkolaborasi dengan komunitas Seni Karakter Jakarta. Kami cuma ikut memeriahkan saja. Biar acara Imlek di Solo lebih meriah,” kata Bogel, salah satu pegiat Komunitas Seni Karakter Solo, saat berbincang dengan Solopos.com di kawasan Pasar Gede, Kamis (8/2/2018) malam.

Dalam gelaran Solo Imlek Festival 2018 ini, para anggota komunitas tersebut akan menyuguhkan penampilan yang berbeda setiap harinya. Hal ini dilakukan agar pengunjung tidak bosan. Setiap harinya mereka memangkal di Pasar Gede mulai pukul 18.30 WIB.

Ini bukan kali pertama bagi mereka tampil di gelaran Solo Imlek Festival. Agus Supriyanto, Ketua Tim komunitas Seni Karakter Jakarta, mengatakan pihaknya telah ikut ambil bagian dalam acara ini sejak 2016 lalu.

“Kami tampil di sini sejak 2016 lalu. Pas itu cuma berkostum horor, kayak pocong dan drakula. Terus yang pas tahun 2017 itu fokus sama pocong putih dan pink. Kalau yang ini nantinya ada kostum lain yang akan ditampilkan, mulai dari horor, robot, dan karnaval. Semuanya konsep itu akan kami tampilkan secara bergantian selama gelaran Solo Imlek Festival. Biar pengunjung enggak bosan juga,” kata Agus.

Bukan pengamen

Bogel menambahkan, pengunjung sangat antusias melihat keberadaan hantu jadi-jadian itu. Dia sangat senang ketika diajak berfoto oleh pengunjung. Tapi, ketika ada pengunjung yang takut, dia dan teman-temannya tidak akan mengganggu.

“Kami yang dari Solo ada lima orang kalau dari Jakarta ada 10 orang. Setiap hari hampir semuanya tampil. Kami senang sih kalau ada pengunjung yang mengajak foto. Mereka bilang unik dan lucu. Tapi, kalau ada yang takut kami enggak mengganggu. Intinya kami ini seniman, bukan pengamen. Kami enggak pasang tarif, kalau ada yang ngasih uang ya diterima. Tapi, kalau kotak di depan ini diisi kritik dan saran, kami malah sangat senang. Berarti, keberadaan kami diperhatikan,” sambung Bogel.

Senada dengan Bogel, Agus Supriyanto mengatakan, kegiatan ini dilakukan hanya sekadar untuk memeriahkan, bukan mencari uang. Dia berharap kegiatan ini menarik perhatian masyarakat guna memperkenalkan komunitas Seni Karakter Solo.

“Kami ini cuma memeriahkan saja. Bukan mengamen. Jadi, kotak yang ada di depan teman—teman yang pakai kostum itu namanya kotak apresiasi. Bukan berarti pengunjung yang mengajak berfoto harus ngasih uang. Kami dikasih saran dan kritik juga senang. Kami ingin memperkenalkan kalau di Solo juga ada komunitas seni karakter seperti ini,” terang Agus.

Agus Supriyanto (kiri), Ketua Tim Komunitas Seni Karakter Jakarta, bersama Bogel (tengah), Penggiat Komunitas Seni Karakter Solo, bersama anggota Komunitas Seni Karakter memeriahkan Solo Imlek Festival 2018, di Pasar Gede, Kamis (8/2/2018). (Chelin Indra Sushmita/JIBI/Solopos.com)

Agus Supriyanto (kiri), bersama Bogel (tengah), dan anggota Komunitas Seni Karakter memeriahkan Solo Imlek Festival 2018, di Pasar Gede, Kamis (8/2/2018). (Chelin Indra Sushmita/JIBI/Solopos.com)

Bogel beharap usahanya ini menarik perhatian masyarakat untuk bergabung di komunitas Seni Karakter yang digagasnya. Dia ingin Kota Solo punya seniman karakter seperti yang ada di Jogja dan Jakarta untuk menambah daya tarik wisatawan.

“Kami masih proses pembentukan komunitas. Semoga dengan acara ini anggotanya makin bertambah. Kami pengin Solo punya komunitas seni karakter resmi yang dinaungi Kementerian Pariwisata. Kegiatan ini kan positif, daripada mengamen atau berbuat hal negatif, mending seperti ini kan,” imbuh Bogel yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh pengrajin gamelan.

Rencananya, Bogel dan teman-temannya akan terus memangkal di Pasar Gede sampai akhir gelaran Solo Imlek Festival 2018. Mereka akan memakai kostum yang berbeda setiap harinya agar pengunjung tidak bosan. Selain Bogel, ada juga hantu jadi-jadian dari komunitas lain, yakni Pocong Racing Community, dan badut dari komunitas Robot dan Badut Gaul yang ikut memeriahkan acara. Mereka semua siap diajak berfoto untuk menghiasi laman mediaa sosial pengunjung.

Keberadaan hantu jadi-jadian ini mendapat respons positif dari masyarakat yang berkunjung ke kawasan Pasar Gede. Beberapa dari mereka sangat senang karena hantu jadi-jadian ini menambah koleksi foto. “Aneh sih, tapi menarik juga. Jadi semakin meriah acaranya dan foto-foto saya jadi makin bervariasi. Kalau dulu cuma sama lampion saja, sekarang jadi ada hantunya juga,” kata salah satu pengunjung asal Karanganyar, Emha.

Sama halnya dengan Emha, Putri, warga Kartasura mengaku cukup terhibur dengan keberadaan cosplay berkostum hantu itu. “Niatnya pengin foto sama lampion karakter itu. Eh, ternyata belum ada. Terus jalan ke Pasar Gede kok ada hantunya. Awalnya takut, tapi lucu juga, akhirnya foto deh,” katanya.

 

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…