Ilustrasi sekolah (JIBI/Solopos/Antara) Ilustrasi sekolah (JIBI/Solopos/Antara)
Jumat, 9 Februari 2018 04:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Sekolah Ramah untuk Semua

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (6/2/2018). Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan dosen pascasarjana Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah aguskriss@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO–Awal Februari 2018 beberapa grup fasilitas perpesanan Whatsapp dipenuhi unggahan berantai dengan tajuk Kado buat Bapak dan Ibu Guru.

Inti unggahan itu adalah penjelasan singkat yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) yang menegaskan guru dibenarkan memberikan hukuman kepada siswa atau peserta didik asalkan sifatnya mendidik.

Pada pasal tertentu ada penjelasan guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, perlakuan tidak adil dari peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain.

Ironis dengan ”kado indah buat guru” itu, pada saat bersamaan muncul konten viral di media sosial maupun berita di media massa tentang meninggalnya seorang guru di sebuah SMAN di Sampang, Madura, setelah dianiaya oleh murid dia sendiri.

Tentu saja itu peristiwa membikin miris. Kasus ini mungkin tidak setara dengan kekerasan yang biasanya dilakukan oleh beberapa ”guru kasar” terhadap para murid di tempat lain. Sangat sulit dimengerti bahwa ada kejadian sebrutal itu yang dilakukan murid terhadap guru.

Terdapat banyak faktor yang dapat digunakan sebagai penjelas atas munculnya fenomena tersebut, tetapi yang pasti bahwa ada ketidakramahan suasana sekolah. Bagaimana mungkin lingkungan yang seharusnya menjadi tempat interaksi pembelajaran yang mengedukasi justru dirusak dengan perilaku kekerasan?

Lebih ironis lagi, kekerasan dilakukan oleh murid terhadap guru. Sekolah ramah anak (SRA) atau child friendly school (CFS) pada intinya merujuk pada sekolah idaman yang secara sadar berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab.

Tidak ada diskriminasi di dalamnya dan tiap anak mempunyai hak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Secara teknis kemudian hakikat dari SRA tersebut dapat dikerucutkan pada berbagai indikator kunci yang setidaknya ada enam pilar. Pertama, tersedianya kantin yang sehat. Hal ini berhubungan dengan urusan nutrisi yang sehat dan layak dikonsumsi anak ketika di lingkungan sekolah.

Selanjutnya adalah: Banyak ancaman yang terus mengintai anak

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…