Komandan Yonif Para Raider 501 Bajra Yudha Madiun, Mayor Infanteri Eko Antoni Chandra Listyanto, mengecek kesiapan prajurit sebelum diberangkatkan ke Papua untuk misi pengamanan perbatasan Republik Indonesia-Papua Nugini, Kamis (8/2/2018). (Istimewa/Pemkot Madiun) Komandan Yonif Para Raider 501 Bajra Yudha Madiun, Mayor Infanteri Eko Antoni Chandra Listyanto, mengecek kesiapan prajurit sebelum diberangkatkan ke Papua untuk misi pengamanan perbatasan Republik Indonesia-Papua Nugini, Kamis (8/2/2018). (Istimewa/Pemkot Madiun)
Jumat, 9 Februari 2018 05:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

450 Prajurit Yonif 501 Madiun Dikirim ke Perbatasan RI-Papua Nugini

Sebanyak 450 prajurit dari Madiun diberangkatkan ke Papua untuk misi pengamanan perbatasan Republik Indonesia-Papua Nugini.

Solopos.com, MADIUN — Sebanyak 450 personel Batalyon Infanteri Para Raider 501 Bajra Yudha Madiun diberangkatkan untuk tugas pengamanan perbatasan Republik Indonesia-Papua Nugini (pamtas RI-PNG). Pemberangkatan prajurit ini dilakukan pada Kamis dan Jumat (8-9/2/2018).

Para prajurit TNI ini diberangkatkan ke perbatasan untuk memastikan batas-batas RI dalam kondisi aman. Sebelum dilepas, mereka terlebih dahulu melakukan ritual mencium tunggul batalyon.

Komandan Yonif Para Raider 501 Bajra Yudha Madiun, Mayor Infanteri Eko Antoni Chandra Listyanto, mengatakan 450 personel tersebut akan bertugas di perbatasan RI-PNG selama sembilan bulan. Mereka menggantikan Batalyon Kostrad 432 Ujung Pandang yang sebelumnya sudah bertugas di perbatasan itu.

450 Personel yang diberangkatkan akan dibagi dalam 16 pos, antara lain Kampung Bewan, Desa Petiwi, dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, Papua.

Eko Antoni menjelaskan pengiriman pamtas RI-PNG sangat mendesak. Pembekalan terhadap para prajurit sejak Oktober 2017 intensif dilakukan. Persiapan mental prajurit dan latihan-latihan bersifat taktis dilaksanakan dengan matang.

“Di sana terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari kelompok kriminal dan separatis bersenjata hingga penyelundupan barang,” terang dia yang akan memimpin pasukannya di Papua.

Eko Antoni menuturkan sejumlah kerawanan di wilayah perbatasan telah teridentifikasi. Salah satunya yaitu kelompok bersenjata yang hendak memisahkan diri dari NKRI.

“Penyuluhan hukum dan pembekalan soal cukai juga kita berikan kepada para prajurit. Nantinya bersama kepolisian, anggota akan berpatroli dari satu titik ke titik di perbatasan-perbatasan tersebut,” jelas Mayor Inf. Eko Antoni.

Lebih lanjut, dia menekankan anggotanya harus mengamankan diri sendiri dan satuannya selama bertugas di perbatasan. Prajurit juga diminta mematuhi standar aturan tugas bila menemui hal-hal yang tidak wajar dan perlu tindakan.

Mereka juga akan dibekali pembangkit listrik tenaga air dan teknologi pertanian. Alat-alat itu dimanfaatkan untuk kebutuhan penerangan di pos dan desa. “Kita juga akan menularkan teknologi dan teknik bertani di sana,” ujar dia.

Selain menghadapi kelompok bersenjata, kata Eko Antoni, para prajurit juga akan menghadapi malaria yang selama ini menjadi momok tersendiri. Selain itu, prajurit harus bisa mengantisipasi berbagai kondisi yang dapat memicu perang suku di sana.

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…