Pengunjung mulai memadati Pasar Beringharjo Barat, Sabtu (17/6/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Pengunjung mulai memadati Pasar Beringharjo Barat, Sabtu (17/6/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 8 Februari 2018 19:20 WIB Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Warga DIY Optimistis dengan Kondisi Perekonomian

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) DIY selama triwulan IV 2017 tercatat sebesar 115,18.

Solopos.com, BANTUL-Indeks Tendensi Konsumen (ITK) DIY selama triwulan IV 2017 tercatat sebesar 115,18. Kondisi ekonomi konsumen untuk triwulan I 2018 kemudian diperkirakan bakal lebih baik lagi dan meningkat hingga setidaknya 116,20.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, JB Priyono mengatakan optimisme konsumen memang sedikit lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 119,09. Meski begitu, angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding capaian ITK secara nasional.

“Nasional angkanya masih 107,00. Artinya, optimisme konsumen di DIY lebih tinggi. Tentu ini didorong ketiga indeks penyusunnya yang berada pada taraf optimis,” ujar dia di Ruang Rapat Bima Gedung BPS DIY, Senin (5/2/2018) kemarin.

Variabel pembentuk ITK terdiri dari indeks pendapatan kini, pengaruh perubahan harga terhadap total konsumsi, dan volume konsumsi barang dan jasa. Priyono memaparkan, indeks pendapatan kini tercatat sebesar 116,33.

Aktivitas perekonomian DIY meningkat di akhir tahun dengan adanya momentum perayaan Natal dan liburan tahun baru, terutama pada lapangan usaha berbasis perdagangan dan jasa. Peningkatan pendapatan juga dinikmati pekerja yang menerima insentif berupa bonus akhir tahun.

Pengaruh perubahan harga (inflasi) terhadap total konsumsi selama triwulan IV 2017 juga berada pada taraf optimis dengan nilai indeks sebesar 108,30. Angka tersebut dipengaruhi kondisi harga barang dan jasa kebutuhan rumah tangga yang kenaikannya relatif rendah atau masih terkendali.

Pola konsumsi rumah tangga cenderung tidak begitu terpengaruh. Hanya 46% rumah tangga pengeluarannya diketahui meningkat, sedangkan sisanya relatif stabil dan bahkan menurun.

Indeks volume konsumsi barang dan jasa pun tercatat cukup tinggi, yakni 121,15. Kecenderungan rumah tangga mengisi liburan akhir tahun dengan berekreasi disebut mendorong peningkatan konsumsi kuliner, transportasi, akomodasi, dan beberapa kelompok komoditas terkait lainnya.

“Indeks volume konsumsi barang dan jasa punya andil paling besar dalam mendorong optimisme konsumen di DIY,” kata Priyono.

Priyono lalu memaparkan, kondisi ekonomi konsumen DIY diperkirakan kembali meningkat pada triwulan pertama tahun ini. Nilai ITK DIY diperkirakan mencapai 116,20 dengan optimisnya indeks pendapatan mendatang serta rencana pembelian barang tahan lama.

Indeks pendapatan mendatang diperkirakan berada pada level 122,70. Peningkatan pendapatan diproyeksikan terjadi pada rumah tangga yang memiliki usaha pertanian, terutama saat memasuki puncak masa panen padi.

Implementasi kebijakan terbaru terkait upah minimum kabupaten/kota juga berpengaruh cukup signifikan pada awal tahun. Ada pula faktor pendukung lain berupa tambahan pendapatan transfer bagi mahasiswa untuk memenuhi kebutuhan pembayaran biaya kuliah semester genap.

Priyono juga mengungkapkan, aktivitas rekreasi dan perjalanan ke luar kota bakal menjadi pendorong utama optimisme indeks pembelian barang tahan lama hingga sebesar 104,80.

“Rencana pembelian barang tahan lama seperti elektronik, kendaraan bermotor, dan tanah atau rumah relatif stabil dengan alasan utama sudah memilikinya,” ucap dia.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…