Beberapa varian kue keranjang yang diproduksi rumah produksi milik Jimmy Sutanto di Kampung Ketandan siap dikemas, Rabu (7/2/2018). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Beberapa varian kue keranjang yang diproduksi rumah produksi milik Jimmy Sutanto di Kampung Ketandan siap dikemas, Rabu (7/2/2018). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S)
Kamis, 8 Februari 2018 17:55 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

TAHUN BARU IMLEK
Banyak Kue Kranjang Palsu, Produksi Kue Tradisional Turun

Kue keranjang atau Nian Gao selalu menjadi sajian wajib dalam upacara doa dalam perayaan Imlek

Solopos.com, JOGJA-Kue keranjang atau Nian Gao selalu menjadi sajian wajib dalam upacara doa dalam perayaan Imlek. Dua rumah produksi kue keranjang tertua di Jogja masih mempertahankan tradisi membuat kue ini meski di tengah penurunan permintaan.

Jimmy Sutanto, salah pemilik rumah produksi kue keranjang di Kampung Ketandan mengatakan sudah sejak 1960, usaha ini dikembangkan. Ada tiga varian kue keranjang yang diproduksi, terdiri dari rasa vanila, cokelat dan frambos.

“Karena ini sudah tradisi, jadi pembuatan kue keranjang ini hanya akan dilakukan saat Imlek saja. Biasanya produksi akan berhenti saat Imlek,” ujar Jimmy kepada Solopos.com, Rabu (7/2/2018).

Kudapan kue keranjang ini biasanya akan menjadi sesaji wajib di malam Imlek, atau pada 15 Februari. Kemudian kue ini akan dinikmati bersama-sama keluarga.

Jimmy memaparkan kue keranjang tak sekadar barang wajib untuk sesaji di perayaan Tahun Baru Tiongkok. Kue ini juga memiliki simbol sebagai pemersatu atau kerukunan bagi keluarga.

“Makanya bentuknya bulat, yang menyimbolkan kumpulan keluarga. Kue ini bertekstur lengket, sehingga diharapkan keluarga tersebut dapat selalu rukun satu sama lain,” papar Jimmy.

Kendati demikian, produksi kue keranjang dirasa terus menurun setiap tahunnya. Jimmy menuturkan banyaknya produk sejenis dari daerah lain yang dijual lebih murah. Padahal, kebanyakan yang dijual itu lebih seperti jenang dodol dan bukan kue keranjang. Sedangkan kue keranjang buatannya dijual dengan harga Rp39.000 per kilogram.

Turunnya kapasitas produksi juga diakui Sulistyowati, pemilik rumah produksi kue berbahan baku cairan gula dan tepung ketan yang berada di Kampung Tukangan, Danurejan. Tahun ini, jumlah produksi kue keranjang yang telah dimulai produksinya sejak 25 Januari lalu lebih sedikit dari tahun sebelumnya.

“Tahun ini, bikinnya tidak sebanyak tahun lalu. Hanya untuk melayani langganan lama saja,” ujar Sulistyowati.

Sulistyowati menambahkan produksi kue keranjang yang telah dikembangkan sejak 1950-an oleh keluarganya ini masih mempertahankan produksi secara manual. Butuh waktu semalam untuk mengerjakan kue yang hanya disajikan saat Imlek ini.

“Proses memasaknya juga sangat lama, membutuhkan waktu lebih dari delapan jam, jadi itu kenapa kue ini bisa awet tanpa ditambah pengawet,” imbuh Sulistyowati.

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…