Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati (dua dari kanan) mengunjungi pasien Puskesmas II Sambungmacan, Sragen, Kamis (8/2/2018). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati (dua dari kanan) mengunjungi pasien Puskesmas II Sambungmacan, Sragen, Kamis (8/2/2018). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Kamis, 8 Februari 2018 16:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

KESEHATAN SRAGEN
Kunjungi Puskesmas II Sambungmacan, Bupati Yuni Disuguhi Pemandangan Ini

Bupati Sragen Yuni Sukowati mengunjungi Puskesmas II Sambungmacan untuk melihat kondisi puskesmas di perbatasan itu.

Solopos.com, SRAGEN — Mendung masih menggelayut di langit Sambungmacan, Sragen. Matahari masih malu menampakkan diri pada Kamis (8/2/2018) pagi.

Rombongan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati sudah tiba di depan Puskesmas II Sambungmacan di jalan Sragen-Ngawi. Tanpa basa-basi, Yuni langsung memasuki Unit Gawat Darurat (UGD) puskesmas rawat inap itu.

Beberapa pegawai puskesmas langsung sibuk menyambut kedatangan orang nomor satu di Bumi Sukowati. Jarum jam menunjuk pukul 08.00 WIB. Di UGD puskesmas itu terbaring nenek-nenek yang menurut informasi masih menjalani observasi.

Padahal pasien itu sebenarnya menunggu jatah tempat tidur kosong dari pasien yang rencananya pulang hari itu. “Sakit apa, Mbah? Ooo panas dan muntah. Ini ada sesuatu, Mbah. Semoga lekas sembuh!” ujar Yuni, sapaan Bupati, kepada pasien lanjut usia itu.

Perempuan tua itu tersenyum dan menganggukkan kepala. “Maturnuwun njih, Bu. [Terima kasih ya, Bu],” jawabnya.

Yuni tak berhenti di UGD. Ia berjalan mengunjungi pasien lainnya. Ia memasuki ruang persalinan. Beberapa poster tentang imbauan bagi ibu menyusui terpampang di ruang itu. Anehnya, ruang itu bukan dipenuhi pasien ibu hamil yang akan melahirkan tetapi dihuni tiga pasien umum.

Seperti halnya di UGD, Yuni menyapa dan memberi bingkisan terbungkus dengan tas kain warna hijau muda. Karto Wiyono, 60, warga Dukuh Trangkil RT 003/RW 012, Desa/Kecamatan Mantingan, Ngawi, Jawa Timur, tergeletak di amben besi ruang persalinan itu.

Tak jauh dari tempatnya berbaring, ada seorang bocah berumur 11 tahun, Yuda Ardana, yang juga tergolek lemas. Yuda adalah cucu Karto Wiyono. Ia ditunggui neneknya, Sutini, 55.

Sementara Karto ditunggui anak perempuannya, Tri Sumiyati, 32. Di sebelah utara amben Karto ada pasien perempuan bernama Haminah Hariyanti, 34, warga Dukuh/Desa/Kecamatan Sambungmacan, Sragen.

“Bapak ini hanya panas. Setelah diperiksa ya tidak sakit apa-apa. Hari ini [kemarin] nanti pulang. Kami kalau berobat memilih ke wilayah Sragen karena sembuhnya ya di Sragen. Sebenarnya dengan Puskesmas Mantingan jaraknya hampir sama tetapi bapak seringnya milih di Puskesmas Sambungmacan ini,” ujar Tri saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis pagi.

Yuda mengalami gejala penyakit yang sama dengan kakeknya. Yuda yang masih duduk di Kelas IV SDN 6 Mantingan sakit karena ikut-ikutan kakeknya. “Yang sakit kakeknya dulu baru kemudian Yuda. Sudah tiga hari ini mondok di puskesmas ini,” kata Sutini.

Haminah juga mengeluhkan panas tetapi disertai dengan kejang-kejang. Haminah masuk puskesmas sejak Senin (5/2/2018) malam tetapi belum ada rencana pulang. Ibu dari dua anak itu diduga mengalami gejala tifus.

Haminah sudah mengenal Bupati Yuni karena sempat menjadi tim suksesnya saat pemilihan kepala daerah. Tetapi bagi Karto dan keluarganya baru tahu sosok Bupati Sragen karena memang bukan warga Sragen.

Puskesmas itu hanya memiliki tiga amben rawat inap. Puskesmas sengaja menggunakan ruang persalinan untuk ruang rawat inap karena kapasitasnya sudah overload.

Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Joko Haryono, menyampaikan Puskesmas II Sambungmacan memang sudah overload. Kapasitas pasien rawat inap, kata dia, hanya enam orang dan itu sudah termasuk di ruang persalinan itu.

“Puskesmas ini kan sudah BLUD [Badan Layanan Umum Daerah] sehingga bisa menambah bangunan sendiri untuk pengembangan pelayanan rawat inap. Terus terang untuk pembangunan puskesmas pada 2018 hanya ada di dua lokasi, yakni Puskesmas Gondang dan Gemolong dengan sumber dana alokasi khusus [DAK] senilai Rp4,3 miliar plus tambahan dari APBD,” ujar Joko.

Daerah perbatasan memang potensial mendapat pasien dari luar Sragen. Seperti di Kedawung itu banyak pasien dari Karanganyar yang masuk Puskesmas Kedawung dengan kapasitas sampai 30 tempat tidur. “Ya, puskesmas daerah perbatasan bisa dikembangkan lebih besar lagi,” tambahnya.

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…