Gus Mus bersama Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, dan Wakil Bupati, Edy Santosa saat Pengajian Akbar di Alun-alun Giri Krida Bhakti, Wonogiri, Selasa (6/2/2018) malam WIB. (Ahmad Wakid/JIBI/SOLOPOS) Gus Mus bersama Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, dan Wakil Bupati, Edy Santosa saat Pengajian Akbar di Alun-alun Giri Krida Bhakti, Wonogiri, Selasa (6/2/2018) malam WIB. (Ahmad Wakid/JIBI/SOLOPOS)
Kamis, 8 Februari 2018 08:15 WIB Ahmad Wakid/JIBI/SOLOPOS Wonogiri Share :

Gus Mus Ajak Warga Wonogiri Bersyukur Jadi Orang Indonesia

Gus Mus memberikan wejangan kepada warga Wonogiri.

Solopos.com, WONOGIRI—Kiai Kharismatik KH Ahmad Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus mengajak warga Wonogiri bersyukur karena lahir di Indonesia saat menjadi pembicara Pengajian Akbar di Alun-alun Giri Krida Bhakti, Wonogiri, Selasa (6/2/2018) malam.

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo dan Wakil Bupati, Edy Santosa, bersama jajarannya turut hadir diacara bertema Sesarengan Mbangun Wonogiri, Mari Kita Tebarkan Perdamaian itu.

Gus Mus mengawali ceramahnya dengan mengatakan tidak memberikan pengajian, tetapi mengajak masyarakat untuk mensyukuri Indonesia. Menurutnya, hidup di Indonesia merupakan nikmat dari Yang Maha Kuasa sehingga harus dijaga bersama. (baca: PILKADA 2018 : Giliran Gus Mus Didatangi Ida)

Apalagi Gus Mus pernah keliling dunia dan hidup di sejumlah negara, salah satunya Mesir. Beliau menganalogikan Indonesia seperti sarung. Menurutnya, sarung tidak pantas apabila digunakan untuk ngepel (membersihkan lantai).

“Kalau kita dikasih sarung ya dipakai lah. Jangan digunakan untuk hal-hal yang tidak pantas bagi sarung,” pesannya.

Gus Mus merupakan peraih Yap Thiam Hien Award 2017 karena dinilai memperjuangkan hak asasi manusia melalui dakwah agama yang dilakukannnya. Namun, dalam pengajian tersebut Gus Mus mengatakan tidak tahu mengenai humanisme dan nasionalisme.

“Yang saya tahu, Indonesia adalah rumah kita. Mari kita jaga bersama rumah ini,” ajaknya.

Selanjutnya, Gus Mus menjelaskan pengertian hak dalam bahasa Arab. Menurutnya, hak bisa berarti kewajiban dan bisa berati hanya sebatas hak. Bagi Gus Mus, hak asasi manusia adalah kewajiban untuk menghormati hak asasi manusia lainnya.

“Mestinya, kebebasan itu harus berhenti ketika menabrak hak orang lain,” ucapnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudhotuth Thalibin, Leteh, Rembang, itu juga mengajak para jamaah untuk mensyukuri nikmat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau mengajak agar masyarakat dan pemimpin meneladani Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW merupakan manusia yang sangat memanusiakan manusia.

“Pemimpin itu harus tahu, umatnya itu berbeda-beda ada yang SMA, SMP, bahkan PAUD. Sehingga tidak bisa disama-ratakan,” jelasnya.

Kemudian Gus Mus membedah makna kata saleh. Beliau menjelaskan, saleh berarti pantas. Menurutnya, pemimpin yang adil merupakan orang yang saleh. Justru, tidak pantas apabila ada seorang bupati namun seharian di masjid dan tidak melayani warganya. Oleh karena itu, beliau mengajak agar masing-masing orang menjalankan tugasnya masing-masing sebaik-baiknya.

“Petani ya bertani, pelajar ya belajar. Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia bagi pelajar kecuali belajar,” terangnya.

Tak lupa, Gus Mus memberikan pesan kepada jamaah agar tidak berhenti belajar, berhenti sekolah boleh. Tapi belajar tidak boleh berhenti sejak lahir hingga meninggal dunia.

“Yang menjadi masalah itu, ketika ada orang berhenti belajar karena merasa pandai. Seketika itu, dia berarti bodoh. Ingat, di atas langit masih ada langit,” pesannya.

Wakil Bupati Wonogiri, Edy Santosa, mengatakan kehadiran Gus Mus diharapkan mampu menginspirasi masyarakat Wonogiri untuk menerapkan ajaran Islam yang menyejukkan dan mengandung nilai-nilai kemanusiaan.

“Kepekaan beliau atas berbagai persoalan bangsa tentu tidak kita ragukan lagi. Pesan-pesan beliau mengunggah nurani seluruh komponen bangsa. Sentilan beliau bagi para pemimpin yang demikian mendalam, namun tetap terasa santun dan menyejukkan,” kata Wakil Bupati dalam sambutannya.

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Urgensi Mendesain Ulang Prolegnas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/2/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com.  Solopos.com, SOLO–Sidang paripurna DPR di ujung 2017 lalu dibuka dengan laporan 50 rancangan undang-undang (RUU)…