Petugas BPBD Kota Madiun menyisir Sungai Bantaran Madiun untuk mencari Hani, perempuan yang terjun ke sungai, Kamis (8/2/2018). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Petugas BPBD Kota Madiun menyisir Sungai Bantaran Madiun untuk mencari Hani, perempuan yang terjun ke sungai, Kamis (8/2/2018). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Kamis, 8 Februari 2018 14:42 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

BUNUH DIRI MADIUN
Seorang Wanita Terjun ke Sungai Bengawan Usai Cekcok dengan Pemuda

Bunuh diri Madiun, seorang perempuan yang diduga pemandu lagu bunuh diri dengan terjun di Sungai Bengawan Madiun.

Solopos.com, MADIUN — Seorang perempuan bernama Hani, 23, warga Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi, diketahui terjun ke Sungai Bengawan Madiun, Kamis (8/2/2018) pagi. Sebelum terjun ke sungai, perempuan yang diduga bekerja sebagai pemandu lagu itu cekcok dengan pasangan prianya.

Pantauan Madiunpos.com di bantaran Sungai Bengawan Madiun, sejumlah personel menyisir sungai yang airnya cukup deras itu. Petugas menyisir dari bantaran sungai.

Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun, Anto Subekti, mengatakan ada laporan seorang perempuan bernama Hani yang bunuh diri di Sungai Bengawan. Peristiwa itu terjadi Kamis pukul 05.00 WIB.

Dia menuturkan sebelum perempuan itu terjun ke sungai sempat cek cok dengan pasangannya bernama Wahyu, 19, warga Paron, Ngawi. Wahyu diketahui masih berstatus sebagai pelajar di salah satu SMK di Ngawi.

“Sempat cekcok, kemudian Hani terjun ke sungai. Itu keterangan dari Wahyu,” kata dia kepada wartawan di lokasi.

Anto menuturkan setelah perempuan itu terjun ke sungai Wahyu sempat ikut terjun ke sungai untuk menolong Hani. Namun, karena kondisi air yang sangat deras sehingga Wahyu naik. Sedangkan Hani terseret arus dan menghilang.

Personel BPBD Kota Madiun yang diterjunkan untuk menyisir Sungai Bengawan Madiun, kata dia, sebanyak 20 personel. Petugas menyisir sungai dari titik lokasi hingga ke Nglames, Kabupaten Madiun.

Dia menuturkan petugas kesulitan mencari jasad Hani karena kondisi air cukup deras. “Ini airnya deras. Kami hanya menyisir di darat, perahu karet sudah kami sediakan tetapi belum kami gunakan,” jelas dia.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…