Foto ilustrasi. (JIBI/Harian Jogja/Reuters)
Kamis, 8 Februari 2018 01:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

Begini Upaya BKIPM Surabaya Berantas Penyelundupan Benih Lobster

Upaya penyelundupan benih lobster di Jatim cukup marak.

Solopos.com, SURABAYA — Upaya penyelundupan benih lobster cukup marak terjadi di wilayah Jawa Timur (Jatim). Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Surabaya 1 pun melakukan berbagai upaya untuk mencegah tindakan penyelundupan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Kepala Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Surabaya 1, Putu Sumardiana, mengatakan saat ini ada beberapa daerah yang terus diwaspadai terkait dengan upaya penyelundupan benih lobster tersebut.

“Wilayah tersebut di antaranya berasal dari Banyuwangi, Jember, Malang, Trenggalek, dan Pacitan,” katanya di Sidoarjo, Rabu (7/2/2018). (baca: Pria Pacitan Dibui karena Terlibat Transaksi Jual Beli Bibit Lobster)

Putu menambahkan tren penyelundupan benih lobster dari tahun ketahuan terus meningkat yakni pada tahun 2017 jumlahnya bisa mencapai 28 kasus dan di tahun 2016 hanya sekitar lima kasus.

“Meningkatnya upaya penyelundupan ink salah satunya harga benih yang cukup tinggi yaitu sebesar Rp20.000 per ekor dan nanti kalau sudah sampai di luar negeri harganya bisa sampai Rp150.000 per ekornya,” ujarnya.

Putu Sumardiana mengatakan saat ini pihaknya sudah memiliki tim untuk melakukan pemantauan tersebut mulai dari tingkat pengepul ikan yang ada di masing-masing daerah.

“Jika dulu kami menunggu di bandara, sekarang ini kami terjun kebawah untuk memonitor langsung terkait dengan upaya penyelundupan benih tersebut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam kurun waktu setahun terakhir sudah ada beberapa orang yang berhasil ditindak dan dijatuhi hukuman pidana perihal keterlibatan dalam kasus ini. “Yang penting bagi kami adalah melindungi jangan sampai terjadi upaya penyelundupan benih tersebut,” ucapnya.

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…