Hasto Wardoyo, Bupati Kulonprogo sedang meninjau lokasi pembangunan rest area pendukung objek wisata teh Nglinggo-Tritis, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Rabu (7/2/2018).(Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja) Hasto Wardoyo, Bupati Kulonprogo sedang meninjau lokasi pembangunan rest area pendukung objek wisata teh Nglinggo-Tritis, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Rabu (7/2/2018).(Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 8 Februari 2018 05:20 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Bedah Menoreh Butuh Rp240 Miliar, Pembangunan Masih Jalan Terus

Jalan Bedah Menoreh dari Temon-Kokap-Girimulyo-Samigaluh-Kalibawang-Magelang ini memiliki panjang total sekitar 63 Kilometer

 
Solopos.com, KULONPROGO- Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulonprogo Nurcahyo Hudi Wibowo mengungkapkan, jalan Bedah Menoreh dari Temon-Kokap-Girimulyo-Samigaluh-Kalibawang-Magelang ini memiliki panjang total sekitar 63 Kilometer.

Total biaya yang dibutuhkan untuk merampungkan proyek yang sudah dimulai sejak 2015 itu sebanyak Rp240 miliar. “Pemkab harus berupaya keras mencari skema sumber penganggaran lain, mengingat terbatasnya kemampuan keuangan daerah,” jelasnya, Rabu (7/2/2018).

Kebutuhan anggaran untuk infrastruktur jalan setiap tahun sangat tinggi, imbuh dia. Pada 2018, kebutuhan anggaran infrastruktur sebesar Rp110 miliar, 2019 sebesar Rp110 miliar, pada 2020 sebesar Rp174 miliar. Sementara itu, pada 2021 sebesar Rp120 miliar dan program pembangunan pada 2022 membutuhkan dana sebesar Rp117 miliar.

Ia menjelaskan, Bedah Menoreh ini bertujuan mendukung pengembangan pariwisata dan mengangkat potensi lokal. Serta diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah utara dengan adanya pembangunan bandara dan ditetapkannya Bukit Menoreh sebagai kawasan penyangga Kawasan Strategis Pembangunan Nasional (KSPN) Borobudur.

“Kami membutuhkan anggaran Rp1 triliun untuk membangun infrastruktur jalan. Kemampuan anggaran daerah terbatas, sehingga kami harus membuat skala prioritas,” katanya.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo membenarkan bahwa pembangunan Bedah Menoreh membutuhkan dana yang tidak sedikit. Namun setidaknya saat ini Pemkab sudah menyiapkan badan jalan terlebih dahulu. Sedangkan untuk dana proses pembangunan, Pemkab sudah mengajukan dan melakukan presentasi ke pemerintah pusat.

“Saya sendiri sudah presentasi sampai empat kali dan tidak ada yang menolak, Gubernur DIY juga memprioritaskan jalur Bedah Menoreh antara New Yogyakarta International Airport (NYIA)-Borobudur,” terangnya.

Saat ini, Pemkab Kulonprogo juga masih meneruskan proses pembebasan lahan untuk menyempurnakan program Bedah Menoreh. Pembebasan lahan jalur koneksitas NYIA di Temon dengan candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah ini tinggal menyisakan enam kilometer. Berada di antara ruas Tegalsari, Purwosari Kecamatan Girimulyo dengan Kebonrejo Kecamatan Samigaluh.

Pembebasan lahan harus diselesaikan untuk membangun jalan sebelum dinaikkan statusnya menjadi jalan propinsi, sambungnya.

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…