Sejumlah anak usia Sekolah Dasar menaiki tank anoa milik TNI pada Selasa (6/10/2015). (Harian Jogja/Uli Febriarni) Sejumlah anak usia Sekolah Dasar menaiki tank anoa milik TNI pada Selasa (6/10/2015). (Harian Jogja/Uli Febriarni)
Kamis, 8 Februari 2018 14:55 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

20% Sekolah di DIY Belum Terapkan K-13

Disdikpora DIY menargetkan di tahun ajaran baru 2018/2019 seluruh SMA/SMK di DIY dapat menerapkan kurikulum 2013 (K-13)

Solopos.com, JOGJA – Disdikpora DIY menargetkan di tahun ajaran baru 2018/2019 seluruh SMA/SMK di DIY dapat menerapkan kurikulum 2013 (K-13).

Hingga awal 2018, tercatat masih ada sekitar 20% sekolah yang masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Selain karena keterbatasan sumber daya sekolah, kuota yang dibatasi oleh pemerintah pusat menjadikan belum semua SMA/SMK di DIY dapat menerapkan kurikulum tersebut.

Kabid Pendidikan Menengah Disdikpora DIY Triyana Purnamawati menjelaskan, penerapan K-13 di DIY dilakukan secara bertahap sejak 2014 silam dengan jumlah sekolah menerapkan terus bertambah setiap tahunnya.

Hingga awal 2018, tercatat sudah 80% SMA/SMK di DIY yang menerapkan K-13, dengan demikian sisanya hanya 20% dari seluruh SMA/SMK yang masih menggunakan KTSP. DIY akan berupaya menyelesaikan lebih awal, meski Kemendikbud menarget capaian penerapan K13 100% pada tahun ajaran 2019/2020 mendatang.

“Kami targetkan tahun 2018 ini bisa 100 persen jadi semua SMA/SMK di DIY menerapkan K13,” terangnya saat ditemui Harianjogja.com di Kantornya Jalan Cendana, Kota Jogja, Rabu (7/2/2018).

Adapun penyebab 20% sekolah belum menerapkan K13, lanjut dia, karena kuota yang diberikan Kemendikbud kepada setiap daerah dibatasi. Hal itu berkaitan dengan penganggaran, karena pemerintah harus memberikan dukungan pelatihan guru hingga menyiapkan sarana prasarana pembelajaran seperti buku pelajaran. Padahal sekolah tidak semuanya mampu jika dibebankan secara mandiri untuk mengikuti berbagai prosedur di K13.

“Kalau sekolah mengusulkan secara mandiri, semua dibebankan kepada sekolah. Selain itu sekolah yang diberikan pelatihan K13 itu yang mendapatkan SK dari pemerintah,” ujarnya.

Sekolah yang belum menerapkan K13 itu merata di berbagai kabupaten di DIY dengan persentase kekurangan yang hampir sama.
Pihaknya akan mengajukan ke Kemendikbud agar 20% sekolah tersebut dapat menerapkan K13 di 2018. Pengajuan akan segera dilakukan pada bulan ini dengan harapan sebelum tahun ajaran baru 2018 dapat disetujui.

“Kalau 100% ini bisa disetujui, optimistis tidak ada masalah. Karena selama ini berjalan lancar,” imbuh dia.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…