Ribuan pengunjung terlihat memadati kawasan Pantai Baron saat pelaksanaan tradisi padusan, Minggu (5/6/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Ribuan pengunjung terlihat memadati kawasan Pantai Baron saat pelaksanaan tradisi padusan, Minggu (5/6/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 7 Februari 2018 07:20 WIB Herlambang Jati Kusumo/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Semua Pantai di Gunungkidul Ramai Wisatawan, Habitat Penyu Terancam

Penyelamatan Habitat Penyu di Gunungkidul dinilai masih kurang

 

Solopos.com, GUNUNGKIDUL--Penyelamatan Habitat Penyu di Gunungkidul dinilai masih kurang, meskipun telah ada Surat Keputusan Bupati Gunungkidul No. 161/KPTS/2016 tentang Penetapan Pantai Sebagai Habitat Penyu di Gunungkidul.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Kelautan Dinas Kelautan dan Perikanan, Wasidi mengatakan saat ini dirasa upaya untuk penyelamatan penyu masih kurang.

“Saat ini memang sudah ada keputusan Bupati Gunungkidul, tentang penetapan pantai sebagai habitat penyu. Setidaknya ada 12 pantai yang ditetapkan sebagai habitat penyu di Gunungkidul. Namun disayangkan untuk upaya lebihnya atau tindak lanjutnya masih kurang,” ujarnya, baru-baru ini.

Dia mengatakan korelasi SK dan perlakuan pantai saat ini belum mendukung pelestarian penyu. Hal tersebut setidaknya harus menjadi tanggungjawab bersama antara Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pariwisata (Dinpar), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan dinas atau masyarakat lainnya.

Wasidi mencontohkan pelestarian penyu di Sukabumi dimana tempat itu pantai benar-benar dikondisikan untuk membudidayakan penyu itu.

“Paling tidak ada satu saja pantai yang benar-benar diperuntukan untuk penyu untuk berkembang biak atau bertelur, karena penyu perlu tempat yang gelap, jauh dari keramaian. Tapi saat ini semua pantai sudah ramai di Gunungkidul,” ujarnya.

Untuk pembudidaya itu memang perlu biaya besar. Namun budidaya itu juga nantinya dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata tersendiri dengan pembatasan jumlah kunjungan tentu saja, agar penyu tidak terganggu.

Sementara itu kordinator Komunitas Relawan Banyu, Ferry Munandar mengatakan konservasi penyu memang cukup sulit. “Konservasi memang sulit, pertama masyarakat sadar tidak pentingnya hal tersebut dan lembaga terkait masih belum konsisten mendukung, aturan-aturannya kadang saling berbenturan,” ujar pria yang dulunya juga salah satu pengurus konservasi penyu di Pantai Goa Cemara, Bantul.

Selain itu masalah lingkungan seperti sampah juga masih kendala klasik di kawasan pantai Selatan. Minimnya fasilitas juga menjadi kendala menurut pengalamannya. Dan juga faktor yang tidak dapat dikendalikan yaitu alam.

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…