Kepala SD Muhamadiyah Miliran Kota Jogja Ani Sulistyaningsih (kanan) menerima Piala Bergilir Gubernur DIY sebagai juara umum Ibnu Sina Cup 2018, Minggu (4/2). (IST/Humas SD Muh Miliran) Kepala SD Muhamadiyah Miliran Kota Jogja Ani Sulistyaningsih (kanan) menerima Piala Bergilir Gubernur DIY sebagai juara umum Ibnu Sina Cup 2018, Minggu (4/2). (IST/Humas SD Muh Miliran)
Rabu, 7 Februari 2018 11:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Pendidikan Share :

SD Muhammadiyah Miliran Jawara Bela Diri

Gelaran Ibnu Sina Cup 2018 diikuti sedikitnya 170 pesilat usia SD se-DIY dan Jawa Tengah

Solopos.com, JOGJA-SD Muhammadiyah Miliran menyabet juara umum dengan memperoleh medali terbanyak dalam kompetisi bela diri Ibnu Sina Cup 2018 yang digelar pada Kamis (1/2/2018) hingga Sabtu (3/2/2018) akhir pekan lalu. Sekolah ini menyiapkan siswa ahli dalam pencak silat sejak masuk di bangku kelas I telah diberikan muatan lokal wajib seni bela diri Tapak Suci bagi seluruh siswa.

Gelaran Ibnu Sina Cup 2018 diikuti sedikitnya 170 pesilat usia SD se-DIY dan Jawa Tengah dengan mempertandingkan sepuluh kelas tanding untuk putra dan putri. Dari 12 kontingen yang dibawa, SD Muhammadiyah Miliran meraih delapan gelar terdiri atas dua emas, tiga perak dan tiga perunggu.

Medali emas itu disumbangkan Ferry Dwi di kelas B Putra dan Nabila Naya di kelas D Putri, sedangkan perak diberikan oleh Ferdi di kelas C putra, Zahra di kelas C putri dan Nadhira di kelas E putri. Khusus untuk medali perunggu berhasil disumbangkan oleh Syauqi RF di kelas A putri, Khusnudzon di kelas C putra dan Dhiya di kelas D putri.

Pelatih Tapak Suci SD Muhammadiyah Miliran Kota Jogja Henry Cahyono menjelaskan, dalam kompetisi itu pihaknya mengirim 12 siswa terdiri atas dua siswa kelas IV, empat anak dari kelas V dan enam anak dari kelas VI. Mereka sebelumnya telah dipersiapkan dengan melakukan seleksi di setiap kelas yang dilakukan melalui pengamatan setiap pelaksanaan latihan.

“Dari 12 yang kami kirim, delapan mendapatkan medali dan sekolah kami ditetapkan sebagai juara umum, pesertanya open DIY dan Jawa Tengah,” terangnya, Senin (5/2/2018).

Ia mengatakan dalam kompetisi itu, ada beberapa sekolah yang dinilai menjadi pesaing terberat dalam setiap kompetisi pencak silat tingkat SD. Akan tetapi dengan berbagai strategi dan motivasi yang diberikan selama pelaksanaan lomba, siswanya dapat bermain dengan apik sehingga mampu menjadi juara umum.

Alumnus Pendidikan Olahraga UNY ini menambahkan, kegiatan seni bela diri bukan hal yang asing bagi siswa sekolahnya. Karena seni bela diri Tapak Suci merupakan pelajaran muatan lokal yang diberikan selama dua jam dalam sepekan dari kelas I sampai kelas VI. Bagi siswa kelas I sampai kelas III diberikan materi pengenalan, setelah memasuki kelas IV hingga VI secara khusus dipersiapkan untuk mengikuti berbagai kompetisi pencak silat.

“Rata-rata setiap kelas selalu ada yang memiliki kemampuan lebih di bidang seni bela diri ini, kemudian kami persiapkan untuk mengikuti kompetisi. Mulai kelas III sebenarnya sudah kelihatan kemampuannya,” kata pria yang juga merangkap sebagai guru olah raga ini.

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…