Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. (Instagram-@ganjar_pranowo) Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. (Instagram-@ganjar_pranowo)
Rabu, 7 Februari 2018 07:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

PERTANIAN JATENG
Ganjar Pranowo Canangkan Uji Coba Aplikasi Eragano

Pertanian Jateng menurut Gubernur Ganjar Pranowo bisa mensejahterakan petani dengan menggunakan aplikasi Eragano.

Solopos.com, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mencanangkan uji coba aplikasi sistem perdagangan elektronik Eragano. Aplikasi e-commerce yang beroperasi sebagai hasil kerja sama Pemprov Jateng dengan pengelola aplikasi sistem perdagangan elektronik itu diklaim sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan petani.

“Sistem informasi pertanian yang dibangun pada e-commerce Eragano akan membuat petani memperoleh keuntungan yang layak,” kata Ganjar Pranowo di Kota Semarang, Jateng, Senin (5/2/2018). Menurut dia, aplikasi Eragano bisa diterapkan di Provinsi Jateng dan beberapa kelompok tani yang sudah punya modal awal peralatan bisa langsung ditautkan ke aplikasi tersebut.

Ganjar Pranowo yang kembali mencalonkan diri dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jateng yang merupakan bagian pemilihan umum kepala daerah (pilkada) serentak 2018 itu berpendapat aplikasi Regopantes perlu terus disosialisasikan kepada para petani meski sudah tiga bulan beroperasi. Sedangkan aplikasi Eragano, menurutnya perlu segera diuji coba di beberapa daerah.

“Eragano membangun sistem informasinya, termasuk produksi dan kemana akan dijual. Dia carikan off taker-nya, back up insurance-nya, dan beri intermediasi perbankan,” ujar Ganjar yang berpasangan dengan Taj Yasin sebagai calon wakil gubernur dalam pilkada atau Pilgub Jateng 2018 itu.

Kepala Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah Peni Rahayu mengemukakan untuk menindaklanjuti penjajakan tersebut, pihaknya akan melakukan uji coba sistem perdagangan elektronik Eragano di Kabupaten Sragen, Grobogan, dan Banyumas. Menurut dia, beroperasinya aplikasi Regopantes dan Eragano nanti akan memberikan keleluasan bagi petani Jateng untuk memilih aplikasi yang digunakan untuk menjual hasil panennya.

“Ada Eragano, ada Regopantes, petani boleh memilih, petani mau jual dalam jumlah kecil dengan harga yang cukup menguntungkan bisa lewat Regopantes, kalau komoditasnya dalam jumlah besar tentu harganya berbeda dan itu kita bisa tawarkan melalui Eragano,” katanya.

CEO Eragano Stephanie menerangkan bahwa aplikasi sistem perdagangan elektronik yang dikelolanya merupakan solusi dari hulu ke hilir berbasis teknologi untuk memberikan kemudahan bagi petani dalam mengakses pinjaman atau kredit perbankan, memperoleh pelatihan budidaya, dan pascapanen hingga mereka siap menjual hasil panennya. Untuk pemasarannya, aplikasi sistem perdagangan elektronik Eragano berorientasi pada segmen industri agar petani dapat menjual komoditasnya dalam skala besar.

“Kami punya jaringan ke hotel, restoran, dan kafe, tapi kami fokuskan pada pasar industri agar kita stabil dulu, tujuan yang kami sudah ada seperti Unilever, Nestle, Charoen Pokphand Indonesia, Cargill,” ujarnya sebagaimana dipublikasikan Kantor Berita Antara, Selasa (6/2/2018).

Secara teknis, petani yang mengawali keikutsertaannya di aplikasi Eragano harus mengisi data profil petani, titik lahan, dan titik geotagging untuk memudahkan monitoring budidaya hingga pascapanen. “Dari profil petani mereka masukkan data seperti dari nama, tanggal lahir, nomor KTP sampai nama ibu kandung untuk membantu bank menerapkan laku pandai. Titik profil lahan dan titik `geotagging` sehingga langsung ketahuan lahannya dimana dan bisa dikroscek karena ketika nanti monitoring, ada pengecekan antara lokasi foto dengan lokasi lahannya,” paparnya.

Dengan segmen industri yang ada, Stephanie mengungkapkan Eragano mendorong insan pertanian Jateng untuk menjual komoditas mereka dengan bobot minimal 2,5 ton sehingga ongkos kirim yang harus dikeluarkan tidak banyak.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…