Foto ilustrasi. (Harian Jogja/Desi Suryanto)
Rabu, 7 Februari 2018 23:20 WIB Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Penampilan Desa Wisata saat Lomba Beda dengan Kondisi Sehari-hari

Pelaksanaan manajemen desa wisata di Bantul dinilai masih sebatas angan-angan

Solopos.com, BANTUL– Pelaksanaan manajemen desa wisata di Bantul dinilai masih sebatas angan-angan. Pasalnya, hingga kini, penampilan fisik desa wisata yang dilombakan di tingkat provinsi selalu berbeda dengan penampilannya sehari-hari.

Peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM Destha Titi Raharjana mengatakan banyak tingkat kunjungan desa wisata yang masih minim. Selain itu, desa wisata masih perlu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara.

“Ini seharusnya menjadi pekerjaan rumah kita semua bagaimana caranya agar desa wisata dilirik dan diminati oleh wisatawan manca negara,” kata Destha, Selasa (6/2/2018).

Peningkatan pengunjung dinilai Destha berbanding lurus dengan kualitas desa wisata. Namun untuk menyesuaikan tampilan fisik dan kualitas desa wisata tak hanya sampai di situ saja, pengelola diwajibkan untuk melakukan pendataan pengunjung. Hal tersebut agar jumlah pengunjung dan asalnya bisa dipetakan sekaligus dinilai berkala.

Pada Januari 2018 telah dilaksanakan lomba pokdarwis dan terpilih tiga pemenang yaitu Juara I Pokdarwis Santan, Guwosari Pajangan, juara II Pokdarwis Karangtengah Imogiri dan juara III Pokdarwis Surocolo, Seloharjo Pundong. Setelah dinyatakan sebagai pemenang lomba, ketiga desa tersebut akan terus dipantau untuk terus meningkatkan kunjungan.

Destha menambahkan, desa wisata di Bantul sejatinya adalah Community Based Tourism (CBT). Maka sudah seharusnya desa wisata meningkatkan keterlibatan masyarakat agar desa wisata mampu berkembang dengan baik.

“Semua harus berperan di dalamnya. Misalnya dengan pembekalan kepada masyarakat  seperti adanya pertemuan rutin dan pembinaan. Jangan sampai ketika ada tamu mereka justru kebingungan atau terjadi shock culture,” kata Destha

Sementara itu Plt Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo mengatakan, masih banyak destinasi wisata di Bantul yang belum terdata memiliki pokdarwis. Dia mengatakan banyak warga yang minta agar dibentuk pokdarwis, namun Kwintarto mengatakan syarat untuk membentuk pokdarwis tidak semudah itu.

“Dibutuhkan komitmen dan jumlah pengunjung yang stabil. Harus dipilih orang yang benar-benar memiliki waktu untuk pokdarwis, jangan asal membentuk saja, kami tidak mau,” kata Kwintarto.

Selain itu, ketika sudah dibentuk, desa wisata maupun pokdarwis harus memberdayakan masyarakat sekelilingnya. Masalah jumlah pengunjung, Kwintarto tak menetapkan batas standar agar sebuah desa wisata dikatakan layak.

Menurut dia yang terpenting adalah bagaimana dengan kunjungan wisatawan tersebut mampu mendongkrak perekonomian masyarakat.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…