Pesawat terbang dari barang rongsok yang dibuat Texswan Purbobusono, warga Dusun Tempel, Desa Pondok, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos) Pesawat terbang dari barang rongsok yang dibuat Texswan Purbobusono, warga Dusun Tempel, Desa Pondok, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos)
Rabu, 7 Februari 2018 04:35 WIB Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

Montir Berusia 65 Tahun di Sukoharjo Rakit Pesawat Terbang Rakitan dari Rongsokan

Seorang montir berusia 65 tahun di Sukoharjo membuat pesawat rakitan dari barang rongsokan.

Solopos.com, SUKOHARJO — Badan pesawat terbang terparkir di garasi rumah di Dusun Tempel, Desa Pondok, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Selasa (6/2/2018). Terdapat baling-baling udara di ujung bodi pesawat terbang yang berfungsi mengonversi putaran menjadi kekuatan pendorong.

Di tengah bodi pesawat, ada tulisan warna hitam berbunyi “Uji Mesin Pendorong”. Pesawat terbang rakitan itu tak utuh lantaran belum ada sayap di kedua sisinya. Bodi pesawat terbang itu dibuat Texswan Purbobusono, 65, yang sehari-hari bekerja sebagai montir bengkel mobil dan freelance reparasi barang-barang elektronik.

Berbekal keterampilan dan keahlian di bidang otomotif, ia merakit bodi pesawat terbang. “Ada empat bagian pesawat terbang yakni badan pesawat [fuselage], sayap [wing], belakang pesawat [empennage] serta roda pendarat. Hanya sayap pesawat yang belum saya buat lantaran terkendala dana,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya, Selasa.

Pria yang akrab disapa Leo ini mengungkapkan pesawat terbang itu beratnya tak lebih dari 100 kilogram (kg) dengan panjang sekitar lima meter. Leo merakit beberapa bagian pesawat sejak dua tahun lalu. Sebagian besar badan pesawat terbuat dari aluminium bekas dari salah satu kantor instansi pemerintah di Kota Solo.

Menariknya, mayoritas bahan rakitan badan pesawat merupakan barang bekas atau rongsok. “Saya sering membeli spare part sepeda motor di Pasar Silir, Solo. Harganya lebih murah dibanding membeli di toko onderdil sepeda motor. Uang pribadi yang digunakan untuk merakit pesawat terbang Rp22 juta,” ujar Leo.

Leo terobsesi membikin pesawat terbang lantaran bermimpi melihat wilayah Soloraya dari langit. Dia belajar merakit pesawat terbang secara autodidak. Proses perakitan badan pesawat terbang tak dilakukan saban hari.

Leo harus merampungkan pekerjaan memperbaiki mobil yang mogok atau barang-barang elektronik seperti televisi, komputer, dan kulkas. Saat memiliki waktu luang, Leo lantas merakit satu per satu badan pesawat.

Mesin pendorong pesawat terbang itu telah diuji coba di jalan raya. Leo mengendarai badan pesawat mengelilingi kawasan Solo Baru, Grogol. “Jika sudah ada sayap, saya akan melakukan uji coba terbang di landasan pacu di Pantai Depok, Bantul, DIY. Saya yakin bisa terbang karena sudah diperhitungkan secara teknis. Bahan bakarnya ya premium bukan avtur yang digunakan pesawat terbang,” terang dia.

Sementara itu, seorang warga Desa Pondok, Kecamatan Grogol, Joko, mengatakan Leo diketahui beberapa kali menguji coba mesin pendorong pesawat terbang melewati jalan perdesaan. Kala itu, laju pesawat cukup kencang.

Padahal, kondisi jalan perdesaan cukup sempit. Alhasil, badan pesawat yang dikemudikan Leo pernah menabrak tiang listrik di pinggir jalan. Joko mengaku bangga terhadap pesawat rakitan karya Leo.

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…