Sudirman Said dalam Mukerda I GNPK Jateng di Grasia Convention Center, Kota Semarang, Sabtu (3/2/2018). (Liputan6.com-Edhie Prayitno Ige) Sudirman Said dalam Mukerda I GNPK Jateng di Grasia Convention Center, Kota Semarang, Sabtu (3/2/2018). (Liputan6.com-Edhie Prayitno Ige)
Rabu, 7 Februari 2018 19:50 WIB JIBI/Solopos/Newswire Semarang Share :

KORUPSI JATENG
Begini Jika Sudirman Said Bicara Korupsi…

Korupsi di Indonesia dibedah Sudirman Said yang kini menjadi salah seorang peserta pilkada serentak 2018 di Jateng atau tepatnya Pilgub Jateng 2018.

Solopos.com, SEMARANG — Jauh hari sebelum kondang sebagai mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang mengungkap skandal Papa Minta Saham PT Freeport Indonesia, Sudirman Said sudah dikenal luas sebagai tokoh antikorupsi di Indonesia. Salah seorang pendiri Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) itu kini maju dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah yang merupakan bagian dari pemilihan umum kepala daerah (pilkada) serentak 2018.

Di tengah aktivitasnya menyosialisasikan diri sebagai calon gubernur peserta Pilgub Jateng dalam pilkada serentak 2018 itu, Sabtu (3/2/2018) lalu, Sudirman Said didapuk membahas pencegahan korupsi dalam Mukerda Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GNPK) Jateng di Grasia Convention Center, Kota Semarang. Maka mantan eksekutif di sejumlah perusahaan terkemuka seperti Pertamina, Petrosea, Indika Energi, hingga Pindad itu pun fasih bicara tentang pemberantasan korupsi di Indonesia.

Dipaparkannya dalam kesempatan itu, sejak terbentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah ada 476 pejabat publik, 25 menteri, 71 bupati/walikota dan 19 gubernur, empat duta besar, tujuh komisioner, 144 anggota DPR, 175 pejabat eselon I, II dan III yang dinyatakan tersangkut korupsi. “Dan jika ditambah dengan pelaku korupsi bukan pejabat, jumlahnya 736,” papar Sudirman Said.

Karena tengah mencalonkan diri sebagai gubernur dalam pilkada atau tepatnya Pilgub Jateng 2018 pria lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) itu pun membikin perbandingan antara kerugian negara akibat korupsi dan APBD Jateng. “Hingga 2015 kerugian negara akibat korupsi mencapai RP203,9 triliun. Delapan kali lipat APBD Jateng, atau 4 juta kelas SD, setara 66.000 gedung puskesmas, dan jika dibagi ke petani seluruh Jateng [maka] setiap petani akan menerima Rp122 juta,” katanya.

Menurut Sudirman Said, koruptor tidak pernah berpikir jerih payah masyarakat yang membayar pajak. Rakyat bekerja sejak dini hari dan tertib membayar pajak. “Saya sering melihat mbok-mbok di Pasar Peterongan. Mereka berangkat ke pasar jam 12 malam. Mereka taat membayar pajak dari rupiah ke rupiah. Tapi tiba-tiba dikeruk dalam satu tempo. Itulah sadisnya korupsi,” kata Sudirman.

Korupsi, menurut Sudirman, lebih dari sekadar mengambil uang rakyat. Tapi pengkhianatan terhadap rakyat dan negara.

Menjawab pertanyaan wartawan, ia pun menyinggung kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) yang sempat pula menyinggung nama rivalnya dalam pilkada atau Pilgub Jateng 2018, Ganjar Pranowo. “Drama pengadilan e-KTP makin seru. Melibatkan tokoh besar, karena pelaku korupsi adalah orang-orang yang memiliki power,” kata Sudirman  sbagaimana dikutip laman aneka berita Liputan6.com.

Ia juga menambahkan kasus e-KTP bukanlah perkara rusaknya teknis pembuatan, tetapi penghancuran sistem negara dan sistem keadilan sosial. Hal itu, menurut dia karena pembuatan e-KTP dimaksudkan sebagai nomor identitas personal. Dengan nomor itu, orang tidak bisa menggelapkan pajak, karena terekam di data kependudukan.

Dengan nomor itu pula pembagian subsidi tidak akan ruwet. Dengan rekam data di nomor itu, juga akan diketahui siapa yang harus membayar pajak banyak, sedikit dan siapa yang tidak bayar. “Korupsi ini telah menghancurkan sistemnya,” simpul Sudirman Said yang tentu saja didapuk GNPK Jateng bicara korupsi bukan sebagai calon gubernur peserta Pilgub Jateng 2018.

Dijelaskannya kemudian bahwa penanganan korupsi adalah perlawanan terhadap keserakahan dengan keseriusan. Karena niat tulus memperbaiki perilaku bangsa itulah, ia menyakini selalu ada dukungan dari alam semesta. “Alam semesta akan bekerja sesuai caranya. Setelah Papa Minta Saham lolos, kasus lain lolos, akhirnya tiang listrik jawabannya,” kata Sudirman menyindir drama kasus yang menjerat mantan Ketua DPR Setya Novanto.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…