Pengunjung melihat mebel yang dipamerkan dalam Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (Jiffina) 2016 di Jogja Expo Center (JEC), Minggu (13/3/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Pengunjung melihat mebel yang dipamerkan dalam Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (Jiffina) 2016 di Jogja Expo Center (JEC), Minggu (13/3/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 7 Februari 2018 05:20 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Ini Keunggulan Produk Dekorasi Rumah dari Jogja Dibanding Daerah Lain

Produk dekorasi rumah asal Jogja masih memiliki daya tarik bagi pasar ekspor

Solopos.com, JOGJA– Produk dekorasi rumah asal Jogja masih memiliki daya tarik bagi pasar ekspor. Selain didukung kekuatan bahan baku, kreativitas pada desain dan produk menjadi keunggulan bagi produk mebel dan kerajinan DIY di pasar mancanegara.

Ketua DPD Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) DIY, Timbul Rahajo mengatakan produk kerajinan dan mebel DIY banyak menampilkan keunikan. Kreativitas perajinnya memberikan sentuhan daya tarik pada setiap produk yang dihasilkan.

“Paling digemari, home decor. Namun memang kerajinan dan mebel DIY itu, dari keunikan bahan dan kreativitasnya masih berimbang,” ujar Timbul, Minggu (4/2/2018).

Kreativitas produk kerajinan dan mebel DIY, kata Timbul, selalu mampu menampilkan keunikan yang berbeda. Artinya, selalu menghadirkan desain-desain yang tidak umum atau tidak biasa dari produk lainnya. Hal ini yang membuat produk mebel dan kerajinan DIY lebih unggul.

“Karena daya tarik produk itu tidak hanya unik, tetapi juga harus beda dari kebanyakan produk lain di pasaran,” ungkap Timbul.

Direktur Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (Jiffina) 2018, Endro Wardoyo mengatakan produk kerajinan dan mebel Jogja masih memiliki kekuatan pada desain. Di mana unsur budaya sering diadopsi ke dalam setiap produk yang dibuat.

“Sehingga memberikan keunikan tersendiri dibandingkan produk kerajinan dan mebel lainnya,” ujar Endro.

Sebelumnya, Endro juga mengungkapkan tren produk daur ulang juga masih menjadi primadona bagi para buyer luar negeri. Namun, bukan hanya dari Jogja, tetapi hampir sebagian besar produk daur ulang selalu menarik pasar luar negeri.

“Setiap diikutkan dalam pameran di luar negeri, produk daur ulang ini paling banyak diminati,” imbuhnya.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…