Udji Kayang Aditya Supriyanto Udji Kayang Aditya Supriyanto (Istimewa)
Rabu, 7 Februari 2018 05:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Jadul pada Era Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (3/2/2018). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, penyimak budaya populer, pengelola Buletin Bukulah!, dan penulis buku Penasaran dan Belokan (2017). Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com.

Solopos.com, SOLO — Zaman bergulir semakin kencang, segala hal mengalami percepatan. Hidup santai dan lambat, kecuali bagi kalangan yang disebut Thorstein Veblen sebagai leisure class, barangkali tak lagi relevan.

Percepatan paling kentara dalam perkembangan teknologi komunikasi. Telepon seluler atau ponsel adalah wujud nyata percepatan itu. Semula perkembangan ponsel berbasis konektivitas, dari yang sebelumnya sebatas telepon dan short message service (SMS) kemudian dilengkapi koneksi Internet.

Perkembangan koneksi Internet di Indonesia pun cukup pesat, dari general packet radio service (GPRS), enhanced data rate for global system for mobile communication evolution (EDGE), 3rd generation (3G), dan yang termutakhir 4th generation long term evolution (4G LTE). Selain itu, ponsel-ponsel mutakhir dapat memanfaatkan jaringan wireless fidelity (wifi) di tempat tertentu.

Kita pantas mengingat puisi Joko Pinurbo berjudul Telepon Genggam (2003). Ia mondar-mandir saja di dalam rumah,/ bolak-balik antara toilet dan ruang tamu,/ menunggu kabar dari seberang/ sambil tetap digenggamnya benda mungil/ yang sangat disayang: surga kecil/ yang tak ingin ditinggalkan.

Surga kecil itu ponsel alias telepon genggam. Ponsel oleh Joko Pinurbo disebut ”surga kecil yang tak ingin ditinggalkan”, bukan ”surga yang tak dirindukan”. Joko pinurbo ngotot dan menegaskan: Ia terbaring telentang, masih dengan kaus kaki/ dan jas yang dipakainya ke pesta,/ dan telepon genggam tak pernah lepas/ dari cengkeram. Telepon genggam:/ surga kecil yang tak ingin ditinggalkan.

Selanjutnya adalah: Kumpulan puisi itu seharusnya terbut sekarang

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…