Salah seorang warga Kampung sedang menanam bibit kopi robusta di kawasan Gunung Gambar, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen. Foto diambil beberpa waktu lalu. (Istimewa) Salah seorang warga Kampung sedang menanam bibit kopi robusta di kawasan Gunung Gambar, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen. Foto diambil beberpa waktu lalu. (Istimewa)
Rabu, 7 Februari 2018 22:40 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Budidaya Kopi Robusta Dikembangkan di Gunungkidul

Warga Kampung kembangkan budidaya kopi robusta.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL–Pemerintah Desa Kampung bersama-sama dengan masyarakat mulai mengembangkan tanaman kopi robusta di kawasan Gunung Gambar, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen. Diharapkan dengan budidaya ini bisa menjadikan Kampung sebagai sentra penghasil kopi di Gunungkidul.

Kepala Desa Kampung Suparna mengatakan proses budidaya kopi robusta sudah dimulai pertengahan Januari lalu. Pada waktu itu, lanjut dia, ada sekitar 3.000 bibit kopi yang ditanam di kawasan Gunung Gambar. “Penanaman 3.000 bibit baru langkah awal karena kami masih akan meminta tambahan bibit  ke Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul untuk pengembangan lebih lanjut,” kata Suparna kepada Harianjogja.com, Rabu (7/2/2018).

Menurut dia, untuk pengembangan budidaya kopi, Pemdes tidak bekerja sendirian karena juga melibatkan warga sekitar dan kelompok sadar wisata yang ada di Gunung Gambar. Selain itu, untuk pembenihan, Pemdes memperoleh bantuan dari salah seorang dosen asal Korea Selatan bernama Ki-Myung Kim yang aktif memberikan pendampingan ke masyarakat Desa Kampung. “3.000 bibit kopi yang ditanam merupakan pemberian dari Mr. Kim,” ungkap Suparna.

Lebih jauh dikatakannya, keberadaan kopi di Gunung Gambar bukan hal yang baru. Pasalnya, sebelum dilakukan budidaya secara massif oleh Pemdes, warga sekitar sudah pernah melakukan penanaman tanaman tersebut. Hanya saja, lanjut dia, penanaman diberhentikan karena kesulitan memasarkan kopi yang dihasilkan.

“Dulu sudah banyak tanaman kopi, tapi berhubung tidak bisa menjual, tanamannya banyak yang ditebang dan diganti dengan tanaman yang lain. Tapi sekarang, kami coba budidayakan kembali, apalagi sekarang juga sedang dilakukan pengembangan wisata di Gunung Gambar,” katanya.

Salah seorang warga Kampung Ngawen, Sri Mumpuni mengaku antusias dengan budidaya kopi robusta yang dikembangkan di wilayahnya. Ia pun berharap, proses tersebut dapat berjalan dengan lancar sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat. “Mudah-mudahan upaya itu dapat menjadi pengungkit untuk meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat,” katanya.

Mumpuni pun menilai budidaya kopi yang dilakukan sangat tepat karena prosesnya bersamaan dengan pengembagnan wisata di Gunung Gambar. “Jadi keberadaannya bisa saling melengkapi sehingga potensi yang ada bisa dimaksimalkan dengan baik,” ujar dia.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…