desa mangunan, wisata bantul Pengunjung tengah berfoto di salah satu di kawasan hutan pinus Mangunan, Kecamatan Dlingo, Sabtu (1/7/2017). (JIBI/Harian Jogja/Arief Junianto).
Selasa, 6 Februari 2018 21:40 WIB Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Yang Hobi Selfie, Hati-Hati Berswafoto di Mangunan

Tempat wisata harus aman digunakan pengunjung.

Solopos.com, BANTUL–Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul memetakan kawasan rawan longsor di di. Di Bantul, infrastruktur jembatan di kawasan Mangunan menjadi sorotan utama BPBD Bantul dalam hal pengamanan bibir tebing secara permanen. Pasalnya, tanah di Desa Mangunan dinilai rawan longsor.

Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto mengatakan potensi wisata alam di Kecamatan Dlingo hampir seluruhnya merupakan kawasan bencana. Oleh karena itu pengamanan bibir tebing seperti pagar harus dilakukan secara permanen agar dapat melindungi tanah labil dari longsor. “Selain itu, sudah kami imbau kepada semuakelompok sadar wisata [pokdarwis] agar jembatan penghubung antar spot selfie diuji kapasitas maksimalnya. Pengunjung juga harus diberitahu kapasitas maksimalnya,” kata Dwi, Selasa (6/2/2018).

Dwi mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk menghindari efek yang ditimbulkan seperti saat air terjun Pacet di Probolinggo mengalami longsor. Menurut Dwi, kepopuleran destinasi wisata tersebut sama dengan Mangunan. Namun akibat longsor, pengunjung jadi trauma berkunjung ke Pacet dan hal tersebut memengaruhi pendapatan dari destinasi wisata tersebut.

Sementara itu Ketua Pokdarwis Desa Mangunan, Widodo, mengatakan tidak ada pembuatan spot selfie tanpa sepengetahuan Pokdarwis Mangunan. Terkait imbauan dan pengamatan dari BPBD terkait jembatan-jembatan kayu di obwis mangunan, Widodo mengaku memang jembatan dan pagar di obwis harus dikuatkan dengan baut. “Setiap hari harus ada petugas yang mengecek kekuatan jembatan dan pagar,” kata Widodo.

Widodo mengatakan, spot selfie perahu kayu di Jurang Tembelan sempat bergoyang ketika dinaiki pengunjung. Dia mengaku langsung memarahi penjaga di sana dan segera melakukan penguatan di perahu kayu tersebut. Tak hanya Jurang Tembelan yang dianggap rawan kekurangan pengamanan, obwis seperti Watu Goyang, Bukit Panguk, Watulawang, Pinus Asri dan Kebun Buah Mangunan juga dinilai masih kurang pengamanan. Namun di Watu Goyang sudah dilakukan pemasangan pagar besi yang akan direnovasi enam bulan sekali.

Widodo membenarkan harus ada pengujian kapasitas jembatan kayu di obwis Mangunan. Penguatan tersebut sudah dilakukan di Watu Goyang dan JSPB. Kapasitas pengunjung yang boleh melewati jembatan kayu Watu Goyang sebanyak 20 orang secara bersamaan, sementara Jelajah Sawah Pertanian Bowongan (JSPB) sebanyak lima orang secara bersamaan. Jika lebih dari itu, dilakukan pengaturan antrean.

Selain penguatan pagar dan jembatan kayu, Widodo mengatakan Pokdarwis juga menetapkan aturan ketat terkait pendirian spot selfie maupun gedung di obwis Mangunan. Aturan tersebut mengatakan bahwa bangunan atau spot selfie yang dibangun harus mundur dari bibir jurang sesuai dengan ketinggiannya. “Contohnya mendirikan bangunan setinggi satu meter, berarti bangunan itu harus mundur satu meter atau lebih dari bibir tebing, ini untuk antisipasi kerawanan pengunjung,” kata dia.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…