Anak-anak di Desa Cermo, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, bermain air di Air Terjun Panguripan, Minggu (4/2/2018). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Anak-anak di Desa Cermo, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, bermain air di Air Terjun Panguripan, Minggu (4/2/2018). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Selasa, 6 Februari 2018 17:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

WISATA MADIUN
Perjalanan Menuju Air Terjun Panguripan Menantang Adrenalin

Wisata Madiun, Air Terjun Panguripan di Desa Cermo penuh tantangan yang memacu adrenalin.

Solopos.com, MADIUN — Desa Cermo, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, kini semakin sadar terhadap potensi alam yang bisa dimanfaatkan untuk tempat wisata. Selain mulai menata kawasan hutan pinus menjadi tempat wisata keluarga dan tempat berkemah, pemuda setempat juga melirik potensi alam berupa air terjun.

Lokasi air terjun itu tak jauh dari lokasi wana wisata hutan pinus Nongko Kuning di Desa Cermo. Objek wisata yang dinamai air terjun Panguripan itu berada di lereng Gunung Wilis.

Ditemani enam anak desa setempat, Heri, Dedi, Irfan, Candra, Tegar, dan Mario, saya berkesempatan menyusuri jalan terjal menuju ke lokasi wisata itu, Minggu (4/2/2018) pagi. Pagi itu cuaca cukup cerah dan mendukung perjalanan.

Anak-anak lereng Gunung Wilis yang menemani perjalanan meminta saya untuk bersiap-siap dan tidak membawa barang berat. Karena kondisi jalan yang penuh tanjakan akan membuat perjalanan semakin panjang.

“Jalannya memang jalan setapak. Sempit jadi perlu hati-hati,” kata anak-anak lereng Gunung Wilis itu.

Sepanjang perjalanan, di sisi kanan dan kiri pemandangan hijau membentang luas. Pohon-pohon menjulang tinggi dan burung-burung saling bersahutan bagai paduan suara yang indah. Kupu-kupu, capung, belalang beterbangan di rerumputan di bawah rerimbunan pohon.

Awalnya perjalanan berasa enteng dan medannya tidak terlalu berat. Hingga bertemu jalan yang berupa tebing bebatuan dengan jalan yang amat sempit, sekitar 50 cm. Saya pun harus melepas sandal karena jalan amat licin.

Sesampainya di tebing berbatu, saya pun harus melewati jalan penuh semak-semak. Hingga akhirnya sampai di spot pertama yakni tebing hujan abadi. Jadi di bawah tebing ini, kita akan merasakan air mengguyur tipis-tipis tapi terus menerus tanpa ada jeda.

Hujan Abadi

Rerimbunan pohon dan akar pohon yang menjulur ke bawah membuat tebing itu terasa lebih sejuk dan adem. Kata anak-anak lereng Gunung Wilis, di atas tebing ada sumber air sehingga airnya terus menerus mengalir ke bawah seperti rintik-rintik hujan.

Puas menikmati suasana sejuk di tebing hujan abadi itu, perjalanan berlanjut sampai di jalan yang tertimbun pohon besar tumbang. Di jalan ini juga harus ekstra hati-hati, selain licin juga banyak duri yang siap menancap di kaki-kaki telanjang. Kaki saya beberapa kali terkena duri sampai mengeluarkan darah.

Untuk menuju ke air terjun itu juga harus melewati dua sungai yang airnya sangat bening. Pengunjung bisa melepas lelah dan berendam sebentar di sungai yang banyak terdapat batu.

Setelah melewati dua sungai, sampai juga di Air Terjun Panguripan. Sungguh indah panorama yang ditawarkan. Air terjun itu memiliki ketinggian sekitar 20 meter dengan debit air tidak terlalu besar sehingga aman untuk bermain air di bawahnya.

Di sekeliling air terjun juga terpampang hutan di Gunung Wilis yang hijau. Anak-anak dari lereng Gunung Wilis itu pun langsung lari dan bermain air di bawah air terjun tersebut.

Perjalanan dari lokasi parkir kendaraan hingga ke air terjun sekitar 1 km. Perjalanan ini dirasakan lebih berat karena kondisi jalan yang menantang adrenalin.

Pengelola wisata Air Terjun Panguripan, Sutrisno, mengatakan wisata alam air terjun di Desa Cermo ini dibuka untuk umum pada pertengahan tahun 2017. Memang belum banyak yang datang berwisata di tempat ini. Tapi dia yakin air terjun akan semakin populer.

Air terjun Panguripan memang dikonsep sebagai tempat wisata khusus bukan tempat wisata umum. Karena dirinya sadar jalan ke lokasi air terjun sangat terjal dan sulit untuk dilalui.

“Kami konsep memang untuk wisatawan yang suka tantangan. Ini bukan untuk wisatawan umum, jalannya sulit dilalui,” terang dia.

Sutrisno berharap potensi alam ini bisa membuat desanya lebih dikenal publik. Sehingga nantinya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…